Category Archives: Artikel

artikel dan tauziah keislaman

Kitab Pembatal Keislaman

Kitab Pembatal Keislaman

Pembatal-pembatal Keislaman

PEMBATAL-PEMBATAL KEISLAMAN [1]

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini adanya perkara-perkara yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Berikut ini akan kami sebutkan sebagiannya:

1. Menyekutukan Allah (syirik). Yaitu menjadikan sekutu atau menjadikannya sebagai perantara antara dirinya dengan Allah. Misalnya berdo’a, memohon syafa’at, bertawakkal, beristighatsah, bernadzar, menyembelih yang ditujukan kepada selain Allah, seperti menyembelih untuk jin atau untuk penghuni kubur, dengan keyakinan bahwa para sesembahan selain Allah itu dapat menolak bahaya atau dapat mendatangkan manfaat.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya…” [An-Nisaa’: 48] Dan Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“… Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya adalah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maa-idah: 72]

2. Orang yang membuat perantara antara dirinya dengan Allah, yaitu dengan berdo’a, memohon syafa’at, serta bertawakkal kepada mereka. Perbuatan-perbuatan tersebut termasuk amalan kekufuran menurut ijma’ (kesepakatan para ulama).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sekutu) selain Allah, maka tidaklah mereka memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula dapat memindahkannya.’ Yang mereka seru itu mencari sendiri jalan yang lebih dekat menuju Rabb-nya, dan mereka mengharapkan rahmat serta takut akan adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Rabb-mu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” [Al-Israa’: 56-57][2]

3. Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan pendapat me-reka. Yaitu orang yang tidak mengkafirkan orang-orang kafir -baik dari Yahudi, Nasrani maupun Majusi-, orang-orang musyrik, atau orang-orang mulhid (Atheis), atau selain itu dari berbagai macam kekufuran, atau ia meragukan kekufuran mereka, atau ia membenarkan pendapat mereka, maka ia telah kafir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” [Ali ‘Imran: 19][3]

Termasuk juga seseorang yang memilih kepercayaan selain Islam, seperti Yahudi, Nasrani, Majusi, Komunis, sekularisme, Masuni, Ba’ats atau keyakinan (kepercayaan) lainnya yang jelas kufur, maka ia telah kafir.

Juga firman-Nya:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]

Hal ini dikarenakan Allah Ta’ala telah mengkafirkan mereka, namun ia menyelisihi Allah dan Rasul-Nya, ia tidak mau mengkafirkan mereka, atau meragukan kekufuran mereka, atau ia membenarkan pendapat mereka, sedangkan kekufuran mereka itu telah menentang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” [Al-Bayyinah: 6]

Yang dimaksud Ahlul Kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani, sedangkan kaum musyrikin adalah orang-orang yang menyembah ilah yang lain bersama Allah.[4]

4. Meyakini adanya petunjuk yang lebih sempurna dari Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang meyakini bahwa ada petunjuk lain yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau orang meyakini bahwa ada hukum lain yang lebih baik daripada hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti orang-orang yang lebih memilih hukum-hukum Thaghut daripada hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah kafir.

Termasuk juga di dalamnya adalah orang-orang yang meyakini bahwa peraturan dan undang-undang yang dibuat manusia lebih afdhal (utama) daripada sya’riat Islam, atau orang meyakini bahwa hukum Islam tidak relevan (sesuai) lagi untuk diterapkan di zaman sekarang ini, atau orang meyakini bahwa Islam sebagai sebab ketertinggalan ummat. Termasuk juga orang-orang yang berpendapat bahwa pelaksanaan hukum potong tangan bagi pencuri, atau hukum rajam bagi orang yang (sudah menikah lalu) berzina sudah tidak sesuai lagi di zaman sekarang.

Juga orang-orang yang menghalalkan hal-hal yang telah diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan dalil-dalil syar’i yang telah tetap, seperti zina, riba, meminum khamr, dan berhukum dengan selain hukum Allah atau selain itu, maka ia telah kafir berdasarkan ijma’ para ulama. Allah Ta’ala berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [Al-Maa-idah: 50]

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir.” [Al-Maa-idah: 44] Allah Ta’ala berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“… Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.” [Al-Maa-idah: 45] Allah Ta’ala berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“… Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” [Al-Maa-idah: 47]

5. Tidak senang dan membenci hal-hal yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun ia melaksanakannya, maka ia telah kafir. Yaitu orang yang marah, murka, atau benci terhadap apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun ia melakukannya, maka ia telah kafir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَّهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang di-turunkan Allah (Al-Qur-an), lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” [Muhammad: 8-9]

Juga firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى ۙ الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ ۖ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (murtad) setelah jelas petunjuk bagi mereka, syaithan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): ‘Kami akan mematuhimu dalam beberapa urusan,’ sedangkan Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka dan punggung mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” [Muhammad: 25-28]

6. Menghina Islam

Yaitu orang yang mengolok-olok (menghina) Allah dan Rasul-Nya, Al-Qur-an, agama Islam, Malaikat atau para ulama karena ilmu yang mereka miliki. Atau menghina salah satu syi’ar dari syi’ar-syi’ar Islam, seperti shalat, zakat, puasa, haji, thawaf di Ka’bah, wukuf di ‘Arafah atau menghina masjid, adzan, memelihara jenggot atau Sunnah-Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, dan syi’ar-syi’ar agama Allah pada tempat-tempat yang disucikan dalam keyakinan Islam serta terdapat keberkahan padanya, maka dia telah kafir.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

“… Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” [At-Taubah: 65-66]

Dan firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” [Al-An’aam: 68]

7. Melakukan Sihir

Yaitu melakukan praktek-praktek sihir, termasuk di dalamnya ash-sharfu dan al-‘athfu. Ash-sharfu adalah perbuatan sihir yang dimaksudkan dengannya untuk merubah keadaan seseorang dari apa yang dicintainya, seperti memalingkan kecintaan seorang suami terhadap isterinya menjadi kebencian terhadapnya.

Adapun al-‘athfu adalah amalan sihir yang dimaksudkan untuk memacu dan mendorong seseorang dari apa yang tidak dicintainya sehingga ia mencintainya dengan cara-cara syaithan. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

“…Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir…’” [Al-Baqarah: 102]

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ.

‘Sesungguhnya jampi, jimat dan tiwalah (pelet) adalah perbuatan syirik.’” [5]

8. Memberikan pertolongan kepada orang kafir dan membantu mereka dalam rangka memerangi kaum Muslimin Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin bagimu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” [Al-Maa-idah: 51][6]

Juga firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang yang membuat agamamu menjadi buah ejekan dan permainan sebagai pemimpin, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu dan dari orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertawakkallah kepada Allah jika kamu benar-benar orang yang beriman.” [Al-Maa-idah: 57]

9. Meyakini bahwa manusia bebas keluar dari syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu orang yang mempunyai keyakinan bahwa sebagian manusia diberikan keleluasaan untuk keluar dari sya’riat (ajaran) Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana Nabi Khidir dibolehkan keluar dari sya’riat Nabi Musa Alaihissallam, maka ia telah kafir.

Karena seorang Nabi diutus secara khusus kepada kaumnya, maka tidak wajib bagi seluruh menusia untuk mengikutinya. Adapun Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia secara kaffah (menyeluruh), maka tidak halal bagi manusia untuk menyelisihi dan keluar dari syari’at beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…’” [Al-A’raaf: 158] Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada ummat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Saba’: 28] Juga firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiyaa’: 107] Allah Ta’ala berfirman:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” [Ali ‘Imran: 83] Dan dalam hadits disebutkan:

وَاللهِ، لَوْ أَنَّ مُوْسَى حَيًّا لَمَا وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِيْ.

“Demi Allah, jika seandainya Musa q hidup di tengah-tengah kalian, niscaya tidak ada keleluasaan baginya kecuali ia wajib mengikuti syari’atku.”[7]

10. Berpaling dari agama Allah Ta’ala, ia tidak mempelajarinya dan tidak beramal dengannya. Yang dimaksud dari berpaling yang termasuk pembatal dari pembatal-pembatal keislaman adalah berpaling dari mempelajari pokok agama yang seseorang dapat dikatakan Muslim dengannya, meskipun ia jahil (bodoh) terhadap perkara-perkara agama yang sifatnya terperinci. Karena ilmu terhadap agama secara terperinci terkadang tidak ada yang sanggup melaksanakannya kecuali para ulama dan para penuntut ilmu. Firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنذِرُوا مُعْرِضُونَ

“… Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.” [Al-Ahqaaf: 3] Firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا ۚ إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabb-nya, kemudian ia berpaling daripadanya. Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” [As-Sajdah: 22] Firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” [Thaahaa: 124]

Yang mulia ‘Allamah asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alusy Syaikh ketika memulai Syarah Nawaaqidhil Islaam, beliau berkata: “Setiap Muslim harus mengetahui bahwa membicarakan pembatal-pembatal keislaman dan hal-hal yang menyebabkan kufur dan kesesatan termasuk dari perkara-perkara yang besar dan penting yang harus dijalani sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Tidak boleh berbicara tentang takfir dengan mengikuti hawa nafsu dan syahwat, karena bahayanya yang sangat besar. Sesungguhnya seorang Muslim tidak boleh dikafirkan dan dihukumi sebagai kafir kecuali sesudah ditegakkan dalil syar’i dari Al-Qur-an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab jika tidak demikian orang akan mudah mengkafirkan manusia, fulan dan fulan, dan menghukuminya dengan kafir atau fasiq dengan mengikuti hawa nafsu dan apa yang diinginkan oleh hatinya. Sesungguhnya yang demikian termasuk perkara yang diharamkan.

Allah berfirman:

فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [Al-Hujuraat: 8]

Maka, wajib bagi setiap Muslim untuk berhati-hati, tidak boleh melafazhkan ucapan atau menuduh seseorang dengan kafir atau fasiq kecuali apa yang telah ada dalilnya dari Al-Qur-an dan As-Sunnah. Sesungguhnya perkara takfir (menghukumi seseorang sebagai kafir) dan tafsiq (menghukumi seseorang sebagai fasiq) telah banyak membuat orang tergelincir dan mengikuti pemahaman yang sesat. Sesungguhnya ada sebagian hamba Allah yang dengan mudahnya mengkafirkan kaum Muslimin hanya dengan suatu perbuatan dosa yang mereka lakukan atau kesalahan yang mereka terjatuh padanya, maka pemahaman takfir ini telah membuat mereka sesat dan keluar dari jalan yang lurus.” [8]

Imam asy-Syaukani (Muhammad bin ‘Ali asy-Syaukani, hidup tahun 1173-1250 H) rahimahullah berkata: “Menghukumi seorang Muslim keluar dari agama Islam dan masuk dalam kekufuran tidak layak dilakukan oleh seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, melainkan dengan bukti dan keterangan yang sangat jelas -lebih jelas daripada terangnya sinar matahari di siang hari-. Karena sesungguhnya telah ada hadits-hadits yang shahih yang diriwayatkan dari beberapa Sahabat, bahwa apabila seseorang berkata kepada saudaranya: ‘Wahai kafir,’ maka (ucapan itu) akan kembali kepada salah seorang dari keduanya. Dan pada lafazh lain dalam Shahiihul Bukhari dan Shahiih Muslim dan selain keduanya disebutkan, ‘Barangsiapa yang memanggil seseorang dengan kekufuran, atau berkata musuh Allah padahal ia tidak demikian maka akan kembali kepadanya.’

Hadits-hadits tersebut menunjukkan tentang besarnya ancaman dan nasihat yang besar, agar kita tidak terburu-buru dalam masalah kafir mengkafirkan.” [9]

Pembatal-pembatal keislaman yang disebutkan di atas adalah hukum yang bersifat umum. Maka, tidak diperbolehkan bagi seseorang tergesa-gesa dalam menetapkan bahwa orang yang melakukannya langsung keluar dari Islam. Sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya pengkafiran secara umum sama dengan ancaman secara umum. Wajib bagi kita untuk berpegang kepada kemutlakan dan keumumannya. Adapun hukum kepada orang tertentu bahwa ia kafir atau dia masuk Neraka, maka harus diketahui dalil yang jelas atas orang tersebut, karena dalam menghukumi seseorang harus terpenuhi dahulu syarat-syaratnya serta tidak adanya penghalang.” [10]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Syarat-syarat seseorang dapat dihukumi sebagai kafir adalah:

1. Mengetahui (dengan jelas),
2. Dilakukan dengan sengaja, dan
3. Tidak ada paksaan.

Sedangkan intifaa-ul mawaani’ (penghalang-penghalang yang menjadikan seseorang dihukumi kafir ) yaitu kebalikan dari syarat tersebut di atas: (1) Tidak mengetahui, (2) tidak disengaja, dan (3) karena dipaksa. [11]

Regards

Advertisements

Bab 10 | Hijrahnya Sebagian Shahabat Ke Habasyah (Bag. 10 dari 11)

HIJRAHNYA SEBAGIAN SHAHĀBAT KE HABASYAH (BAGIAN 10 DARI 11)

 

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

 

Para sahā
abat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita lanjutkan kisah berikutnya tentang kisah Islāmnya ‘Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Disebutkan setelah tiga hari Hamzah masuk Islām lalu ‘Umar bin Khaththāb pun masuk Islām. Hari-hari tersebut adalah hari yang indah, telah masuk Islām dua orang yang kuat.

Hamzah pemuda yang sangat kuat. Hebat dalam bertempur. Tidak ada yang bisa mengalahkan dia (Hamzah). Hamzah meninggal dalam perang Uhud karena ditombak oleh Wahsyi, seandainya berduel maka Hamzah tidak pernah kalah.

Demikian juga ‘Umar bin Khaththāb, beliau dibunuh oleh Abū Lu’lu Al Majusi dengan cara curang (Abū Lu’lu Al-Majusi diajak duel dia tidak berani). Jangan terperdaya dengan orang-orang Syiah yang mengelari Abū Lu’lu Al-Majusi dengan gelar pahlawan sang pemberani, sesungguhnya dia pengecut tidak berani berduel dengan ‘Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ta’āla ‘anhu.

Abū Lu’lu membunuh ‘Umar bin Khaththāb tatkala ‘Umar sedang shalāt.

Jangankan manusia, syaithān pun takut kepada ‘Umar, apalagi Manusia.

Oleh karenanya disebutkan tatkala ‘Umar beberapa hari masuk Islām, ‘Umar pergi kerumah Abū Jahal (‘Umar adalah teman Abū Jahal yang suka menganggu kaum muslimin), lalu Abū Jahal berkata:

أبو جهل ، فقال : مرحبا وأهلا بابن أختي ، ما جاء بك؟

“Selamat datang wahai saudaraku, ada apa gerangan engkau ke sini?”

Kata ‘Umar bin Khaththāb:

قال : جئت لأخبرك أني قد آمنت بالله وبرسوله محمد ، وصدقت بما جاء به

“Saya datang ke sini untuk memberi kabar bahwa saya telah berimān kepada Allāh dan berimān kepada Muhammad dan saya benarkan apa yang dia katakan.”

Abū Jahal langsung menutup pintu rumahnya, Abū Jahal tidak berani melawan ‘Umar bin Khaththāb.

Disebutkan juga dalam hadīts yang hasan, karena ada Ibnu Ishaq, dia mengatakan:

وحدثني نافع مولى ابن عمر عن ابن عمر قال لما أسلم عمر قال أي قريش أنقل للحديث ؟ فقيل له جميل بن معمر الجمحي فغدا عليه، قال عبد الله وغدوت أتبع أثره، وأنظر ما يفعل وأنا غلام أعقل كل ما رأيت، حتى جاءه فقال له أعلمت يا جميل أني أسلمت ودخلت في دين محمد ؟ قال فوالله، ما راجعه حتى قام يجر رداءه، واتبعه عمر، واتبعته أنا، حتى إذا قام على باب المسجد صرخ بأعلى صوته يا معشر قريش، وهم في أنديتهم حول الكعبة، ألا إن ابن الخطاب قد صبا، قال يقول عمر من خلفه كذب، ولكني قد أسلمت، وشهدتُّ أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله، وثاروا إليه فما برح يقاتلهم ويقاتلونه حتى قامت الشمس على رؤوسهم، قال وطلع فقعد، وقاموا على رأسه وهو يقول افعلوا ما بدا لكم، فأحلف بالله أن لو قد كنا ثلاثمائة رجل لقد تركناها لكم، أو تركتموها لنا قال فبينما هم على ذلك، إذ أقبل شيخ من قريش عليه حُلَّةٌ حَبِرَةٌ وقميصُ مُوَشّى حتى وقف عليهم، فقال ما شأنكم ؟ فقالوا صبأ عمر، قال فمه، رجل اختار لنفسه أمرًا، فماذا تريدون ؟ أترون بني عدي يسلمون لكم صاحبكم هكذا ؟ خلوا عن الرجل قال فوالله لكأنما كانوا ثوبًا كشط عنه، قال فقلت لأبي بعد أن هاجر إلى المدينة يا أبت من الرجل الذي زجر القوم عنك بمكة يوم أسلمت وهم يقاتلونك ؟ قال ذاك أي بني، العاص بن وائل السهمي»

Bahwasanya Nāfi’ Maulā ibnu ‘Umar telah mengabarkan dari ibnu ‘Umar (dari anaknya ‘Umar) tatkala ‘Umar masuk Islām:

‘Umar bertanya:

“Orang Quraisy mana yang paling cepat menyebarkan berita?”

(Dahulu tidak ada internet atau microphone, jadi berita tersebar dari mulut ke mulut.)

Dikatakan kepada ‘Umar:

“Ada seorang Quraisy yang bernama Jamīl bin Ma’mar Al Jumahiy.”

Maka ‘Umarpun pergi kepadanya (menemui Jamīl bin Ma’mar)

Saya pun ikut bapakku (kata Ibnu ‘Umar), saya ingin tahu apa yang dilakukan bapakku sehingga mencari orang ini (Jamīl bin Ma’mar Al Jumahiy). Sampai ‘Umarpun mendatangi orang Quraisy ini (orang yang suka menyebarkan berita).

Kemudian ‘Umar berkata:

“Tahukah engkau Jamīl, saya sudah masuk Islām dan saya sudah masuk ke dalam agamanya Muhammad?”

Tatkala itu Jamīl (orang musyrik) diam saja tidak menjawab, dia langsung pergi sampai ridā’ (selendang) nya terjulur ke lantai karena kaget.

Dan sayapun ikuti terus bapakku, kemudian tatkala Jamīl sampai di pintu Masjidil Harām, maka dia berkata sekeras-kerasnya:

“Wahai orang-orang Quraisy ketahuilah bahwasanya ‘Umar bin Khaththāb telah menjadi Shabā (keluar dari agama kalian).”

Dan ini yang dicari ‘Umar bin Khaththāb, agar orang tahu semua bahwa dia sudah masuk Islām.

Demikian saja.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

_______

 

Hijrahnya Sebagian Shahabat Ke Habasyah (Bag. 9 dari 11)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 04 Rabi’ul Awwal 1439 H / 21 Maret 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 10 | Hijrahnya Sebagian Shahabat Ke Habasyah (Bag. 9 dari 11)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-1009
~~~~~~~~~~~~~~~
*HIJRAHNYA SEBAGIAN SHAHĀBAT KE HABASYAH (BAGIAN 9 DARI 11)*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Para sahabat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita lanjutkan kisah berikutnya yaitu tentang Islāmnya ‘Umar bin Khaththāb radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu.

Kenapa dia masuk Islām?

Ada banyak riwayat tentang penyebab masuknya ‘Umar bin Khaththāb ke dalam agama Islām, tetapi riwayat-riwayat itu banyak yang lemah.

Saya akan bawakan riwayat yang shahīh. Adapun kisah bahwasanya dia mendengar bacaan Al Qurān maka itu riwayat yang lemah.

Riwayat yang shahīh disebutkan oleh Layla bintu Hasma bintu ‘Abdillāh, istrinya Amir bin Rabī’ah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, suatu saat mereka hendak pergi berhijrah ke negeri Habasyah.

⇒ Jadi ‘Umar masuk Islām tidak lama setelah hijrah kedua ke negeri Habasyah.

Tatkala itu ‘Umar melihat Layla sedang menyiapkan kendaraannya, dia akan pergi.

Kemudian dia berkata (waktu itu):

والله إنا لنترحل إلى أرض الحبشة، وقد ذهب عامر في بعض حاجاتنا، إذ أقبل عمر بن الخطاب حتى وقف علي – وهو على شركه، قالت: وكنا نلقى منه البلاء والشدة علينا

_"Demi Allāh, Kami ingin pergi ke negeri Habasyah dan suamiku (Amir) sedang pergi (keluar rumah) karena ada keperluan. Tiba-tiba datang ‘Umar (waktu itu masih musyrik) dan kami dahulu diganggu oleh ‘Umar._

_(‘Umar dahulu terkenal keras terhadap kaum muslimin.)_

_Sampai Layla mengatakan, "Kami telah diganggu oleh ‘Umar (dikerasi dan dipukuli oleh ‘Umar)."_

_Tiba-tiba hari itu dia datang dan melihat saya hendak pergi ke negeri Habasyah bersama suamiku._

Tiba-tiba ‘Umar bertanya:

إنه الإنطلاق يا أم عبد الله؟

_"Wahai Ummu Abdillāh, apakah engkau hendak pergi?"_

Layla menjawab:

نعم , والله لنخرجن في أرض الله، آذيتمونا , وقهرتمونا، حتى يجعل الله لنا مخرجا

_"Iya, Demi Allāh, kami akan pergi ke bumi Allāh. Kalian telah mengganggu dan menzhālimi kami, sampai Allāh datangkan kepada kami solusi."_

Tiba-tiba ‘Umar berkata:

صَحِبَكُمْ الله

_"Semoga Allāh menemani kalian."_

⇒ Ini ajaib tiba-tiba ‘Umar mendo’akan mereka (‘Umar berubah hatinya).

Kata Layla:

ورأيت له رقة لم أكن أراها، ثم انصرف وقد أحزنه – فيما أرى – خروجنا

_Saya melihat kesedihan padanya, saya belum pernah melihat kesedihan seperti itu._

Kemudian ‘Umar pun pergi, ternyata kondisi yang seperti ini membuat hati ‘Umar berubah.

قالت: فجاء عامر بن ربيعة من حاجته تلك، فقلت له يا أبا عبد الله , لو رأيت عمر آنفاورقته وحزنه علينا

_Tiba-tiba datang suaminya, lalu Layla berkata, "Wahai, Abū Abdillāh, kalau engkau tadi melihat wajah ‘Umar bin Khaththāb, bagaimana dia sedih melihat kita akan pergi, engkau akan heran."_

قال أفطمعت في إسلامه؟

_Maka suaminya (Amir bin Rabī’ah) berkata, "Engkau ingin dia masuk Islām, wahai istriku?"_

قلت: نعم

_Ummu Layla menjawab, "Iya, tentu."_

Maka suaminya mengatakan:

قال لا يسلم الذي رأيت حتى يسلم حمار الخطاب

_"’Umar yang engkau lihat tidak akan masuk Islām, sampai himārnya (keledainya) masuk Islām."_

Karena ‘Umar sangat keras, sangat kencang mengganggu kaum muslimin. Badannya kuat, tubuhnya hebat, semua orang takut dengan ‘Umar bin Khaththāb.

Sehingga Amir bin Rabī’ah radhiyallāhu ta’āla ‘anhu mengatakan, "Engkau mau ‘Umar masuk Islām? (Mustahil,) tunggu keledainya masuk Islām baru dia mau masuk Islām."

Ini sesuatu yang mustahil, keledai masuk Islām.

Namun, Subhānallāh, karena melihat kondisi umat Islām yang disiksa membuat sedih ‘Umar (merubah hati ‘Umar).

Ini adalah berkat do’anya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Beliau perhatian terhadap ‘Umar dan pernah berdo’a agar Allāh memberi hidayah, kalau tidak kepada Abū Jahal atau ‘Umar.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mencari orang yang kuat, karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam membutuhkan orang yang kuat untuk membela Islām.

Maka di antara do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau berkata:

اللهم أعز الإسلام بأحب هذين الرجلين إليك , بأبي جهل أو بعمر بن الخطاب

_"Yā Allāh, jayakanlah Islām dengan salah seorang dari dua orang ini, dengan Abū Jahal atau ‘Umar bin Khaththāb."_

فكان أحبهما إلى الله عمر بن الخطاب – رضي الله عنه

_Akan tetapi yang paling dicintai dan diinginkan oleh Nabi adalah ‘Umar bin Khaththāb (meskipun keduanya sama-sama keras)._

Nabi tidak pernah putus asa walau keduanya suka menganggu Nabi, mencaci maki Nabi, Nabi berharap keduanya bisa masuk Islām.

Sehingga Nabi berdo’a secara khusus lagi, diriwayatkan oleh ‘Āisyah,

اللهم أعز الإسلام بعمر بن الخطاب خاصة

_"Yā Allāh, Jayakanlah Islām khusus dengan ‘Umar bin Khaththāb."_

Maka Allāh mengabulkan do’a Nabi dan masuklah ‘Umar ke dalam Islām.

Dan luar biasa tatkala ‘Umar masuk Islām.

Demikian saja.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

______________________

Regards

Hijrahnya Sebagian Shahabat Ke Habasyah (Bag. 8 dari 11)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 03 Rabi’ul Awwal 1439 H / 20 Maret 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 10 | Hijrahnya Sebagian Shahabat Ke Habasyah (Bag. 8 dari 11)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-1008
~~~~~~~~~~~~~~~

*HIJRAHNYA SEBAGIAN SHAHĀBAT KE HABASYAH (BAGIAN 8 DARI 11)*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Para sahabat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita lanjutkan ke kisah berikutnya yaitu tentang Islāmnya Hamzah bin Abdul Muthathālib.

Kita tahu bahwasanya penyiksaan yang dilakukan oleh orang-orang kāfir terhadap para shahābat luar biasa.

Kelihatannya perkara yang buruk, tetapi kata Allāh:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

_"Bisa jadi engkau membenci sesuatu tetapi ada kebaikan bagi kalian."_

(QS Al Baqarah: 216)

Ada perkara-perkara yang dibenci namun ada hikmah dibalik itu, di antaranya penyiksaan kepada para shahābat dan ejekan kepada Nabi yang menjadikan sebagian orang masuk Islām, seperti Hamzah bin Abdul Muththālib.

Disebutkan dalam buku-buku sejarah, apa sebab Hamzah bin Abdul Muththālib masuk Islām?

Karena ta’ashshub suku. Dia tidak ingin keponakannya diganggu, meskipun dia pamannya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tetapi umurnya sebaya dengan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam karena dia juga saudara sepersusuan dengan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, sehingga Hamzah sangat cinta kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sangat cinta kepada Hamzah.

Suatu hari, Abū Jahal melewati Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang sedang berada di bukit Shafā.

Maka Abū Jahal mencaci maki Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Nabi tidak membantah, hanya diam saja. Akan tetapi hal ini dilihat oleh seorang budak wanita, budaknya ‘Abdullāh bin Jud’an.

Tiba-tiba datang Hamzah bin Abdul Muththālib pulang berburu dengan membawa busur panah. Maka budak wanita ini mengabarkan kepada Hamzah bagaimana Abū Jahal mencaci maki keponakannya (Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam). Hamzahpun marah tidak terima, padahal tatkala itu dia masih musyrik.

Kita tahu bahwasanya permusuhan antara banī Makzhum dengan banī Abdul Manāf sangat keras (kuat). Sekarang yang mengganggu keponakannya adalah dari pimpinannya banī Makzhum (Abū Jahal).

Kemudian Hamzah mendatangi Abū Jahal, tatkala itu Abū Jahal sedang berada di Masjidil Harām, sedang duduk di antara teman-temannya. Kemudian Hamzah pun mendatangi Abū Jahal dan memukulkan busurnya ke kepala Abū Jahal.

Kata Hamzah, "Engkau caci maki keponakanku, saya ini di atas agamanya, tahukah engkau?"

Tatkala itu banī Makzhum ingin membela Abū Jahal tetapi dilarang oleh Abū Jahal, akhirnya Hamzah pun masuk Islām.

Ini adalah sesuatu yang tampaknya buruk, yaitu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam diejek, akan tetapi menyebabkan pamannya masuk Islām.

Bisa jadi engkau membenci sesuatu namun ada baik dibaliknya.

Demikian saja.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Reagards

Hijrahnya Sebagian Shahabat Ke Habasyah (Bag. 7 dari 11)

🌍 BimbinganIslam.com
Jumat, 28 Jumadal Tsani 1439 H / 16 Maret 2018 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 10 | Hijrahnya Sebagian Shahabat Ke Habasyah (Bag. 7 dari 11)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-1007
~~~~~~~~~~~~~~~

*HIJRAHNYA SEBAGIAN SHAHĀBAT KE HABASYAH (BAGIAN 7 DARI 11)*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
​​​الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Para sahbat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian, kita akan lanjutkan kisah hijrah para shahābat ke negeri Habasyah (Ethiopia).

Adapun kisah yang masyhur di buku-buku sejarah tentang shahābat Nabi yang bernama ‘Ubaidillāh bin Jahsyn yang katanya dia hijrah ke negeri Habasyah kemudian dia masuk Nashrāni maka kisah ini tidak ada dalīl yang shahīh.

Bahkan bertentangan dengan hadīts-hadīts yang shahīh, yang menunjukkan dia tetap dalam keadaan Islām.

Tatkala itu dia berhijrah ke Habasyah bersama istrinya, Ramlah Ummu Habibah bintu Abī Sufyān, yang nanti akan menjadi istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Ketika sampai di Habasyah, dia sakit (dalam hadīts shahīh riwayat Ibnu Hibban) dan mewasiatkan kepada Nabi untuk menikahi istrinya.

Akhirnya Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam menikahi Ummu Habibah jarak jauh (dengan perantara). Nabi di Mekkah dan Ummu Habibah di Habasyah.

Di antara dalīl yang menguatkan bahwasanya dia tetap Islām dan tidak mati dalam keadaan Nashrāni adalah kisah pertemuan Heraklius dengan Abū Sufyān. Tatkala Heraklius bertemu dengan Abū Sufyān, Heraklius bertanya tentang sifat-sifat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Di antara pertanyaan yang diajukan, Heraklius bertanya:

"Apakah ada di antara pengikut Muhammad satu orang yang murtad karena dia benci kepada agama Muhammad?"

Kata Abu Sufyan: "Tidak ada."

⇒ Intinya tidak ada dari shahābat Nabi yang murtad.

Kalau seandainya ‘Ubaidillāh bin Jahsyn murtad maka pasti Abū Sufyān tahu karena istrinya ‘Ubaidillāh adalah putrinya Abū Sufyan.

Seandainya menantu, Abū Sufyān (Ubaidillāh bin Jahsy), masuk ke dalam agama Nashrāni pasti mertuanya (Abū Sufyān) tahu. Namun tatkala Heraklius bertanya, "Adakah pengikutnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang murtad?" Abū Sufyān menjawab, "Tidak ada."

Ini dalīl bahwasanya berita tentang Ubaidillāh bin Jahsyn menjadi seorang Nashrāni adalah tidak benar.

Maka kita tidak boleh menceritakan kisah ini kepada masyarakat karena ini tidak benar, Bagaimana ‘Ubaidillāh bin Jahsy lari dari kesyirikan, pergi ke tempat yang jauh, penuh kesulitan, sampai di sana menjadi Nashrāni?

⇒ Ini jauh dari Sirah para shahābat radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum.

Para shahābat yang berhijrah 2 kali ke negeri Habasyah dan ke Madīnah (meskipun belakangan) maka mereka memiliki keutamaan sendiri.

Pada waktu Perang Khaibar ada salah seorang yang datang terlambat, jadi para shahābat tetap terus di Habasyah, kira-kira mereka 15 tahun, mereka tidak disuruh pulang kecuali setelah perang Khaibar.

Padahal tatkala itu telah terjadi peristiwa-peristiwa besar antara kaum muslimin dengan orang-orang kāfir. Ada Perang Badr, Perang Uhud, Perang Khandaq, namun sama sekali Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menyuruh untuk pulang.

Kapan Nabi menyuruh mereka pulang?

Yaitu setelah terjadi Perjanjian Hudaibiyyah. Tatkala kondisi telah tenang, maka mereka pulang, karena ada perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

Sebagian ulamā mengatakan mengapa Nabi tidak menyuruh pulang?

Kata para ulamā, Nabi tetap menjaga agar dakwah ini berjalan, harus ada yang selamat.

Nabi tidak tahu masa depan (misalnya) ada yang terjadi pada Nabi dan para shahābat di Madīnah. Kalau mereka dibumi hanguskan di Mekkah maka masih ada yang berdakwah di Habasyah (dakwah tidak boleh berhenti). Sehingga Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak memanggil mereka kecuali sudah ada ketenangan.

Setelah ada perjanjian damai baru Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam meminta para shahābat kembali.

Akhirnya Ja’far bin Abī Thālib dan para shahābat yang sudah tinggal lama di Habasyah pulang ke Mekkah dan langsung ikut Perang Khaibar.

Tatkala itu ada sebagian shahābat yang terlambat datang dari Habasyah ke Khaibar.

Dan ada shahābat yang tidak ikut hijrah ke Habasyah melainkan mereka hijrah ke Madīnah, dan shahābat yang ikut hijrah ke Habasyah belum ke Madīnah.

Tatkala para shahābat yang berhijrah ke Habasyah belakangan (datang ke Madinahnya) sebagian shahābat yang berhijrah ke Madīnah sedikit membanggakan dengan mengatakan, "Kami lebih dahulu hijrah ke Madīnah dan kalian belakangan."

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam membela mereka dengan berkata:

ليس بأحق بي منكم

_"Bahwasanya orang itu tidak lebih berhak tentang aku daripada kalian."_

Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang menyuruh mereka dulu (para shahābat) hijrah ke negeri Habasyah.

Kata Nabi:

وله ولأصحابه هجرة واحدة، ولكم أنتم – أهل السفينة – هجرتان

_"Bagi orang tadi yang bangga dengan shahābat-shahābatnya, dia hanya dapat satu hijrah, adapun kalian mendapat dua hijrah (hijrah ke Habasyah dan hijrah ke Madīnah)."_

Demikian saja.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
وبالله التوفيق و الهداية
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

______________________

Regards