Category Archives: Artikel

artikel dan tauziah keislaman

SUNNAH-SUNNAH YANG DIANJURKAN TATKALA TURUN HUJAN

*SUNNAH-SUNNAH YANG DIANJURKAN TATKALA TURUN HUJAN*

*1. Sunnah pertama:*

Sungguh dulu Rasulullah ﷺ jika melihat hujan, beliau berdoa:

اللَّهمَّ صيِّبًا نافعًا

“Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat.”
Yakni hujan yang tercurah berlimpah. (Dishahihkan Al-Albani dalam shahih Al-Adab Al-Mufrad).

*2. Sunnah kedua:*

Menyingkap sebagian badannya agar terkena air hujan.

Dari Anas radhiyallahu’anhu berkata: Kami tertimpa hujan bersama Rasulullah ﷺ lalu beliau menyingkap baju sampai sebagian badan beliau terkena air hujan, lalu kami bertanya: “Untuk apa anda melakukan begini?” Beliau menjawab: “Karena hujan ini baru saja dari sisi Rabbnya.” (HR. Muslim)

*3. Sunnah ke tiga:*

Berdoa kepada Allah di tengah turunnya hujan, karena ketika itu adalah waktu dikabulkannya doa, karena bertepatan turunnya rahmat dari rahmat Allah Azza wa jalla. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda: “Dua doa yang tidak akan ditolak:

Doa ketika adzan dan doa di bawah hujan.” (Dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami no 3078.)

*4. Sunnah ke empat:*

Ucapkanlah sesudah hujan reda :

مُطِرنا بفضلِ اللَّهِ ورحمتِهِ

Kami diberi hujan dengan sebab karunia Allah dan rahmat-Nya.

(( مُطِرنا بفضلِ اللَّهِ ورحمتِهِ ))

Ditekankan untuk beramal dengan hadits ini dan meyakini maknanya pada zaman sekarang ini. Karena melihat sebagian manusia sudah mulai menggantungkan turunnya hujan kepada kondisi udara, dan mereka berpatokan dengan pendapat ahli cuaca. Dalam sebuah hadits beliau ﷺ shalat subuh dengan para sahabatnya di Hudaibiyah dalam bekas hujan tadi malam. Tatkala beliau selesai shalat, beliau menghadap manusia lalu bersabda: “Tahukah kalian apa yang difirmankan Rabb kalian?”

Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yg lebih tahu.”

Beliau bersabda: “Allah ta’ala berfirman: Pada pagi hari ada diantara hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan kafir.”

Adapun yang mengatakan Kita diberi hujan karena karunia Allah dan Rahmat-Nya, maka ia telah beriman kepadaKu dan kafir kepada bintang. Dan adapun yang mengatakan: “Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu, maka ia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.” (Muttafaq alaih 71-1038)

*5. Sunnah yang kelima:*

Ketika hujan sangat deras dan kawatir membahayakan, sebagian mereka berdoa kepada Allah agar Allah menghentikan hujannya, dan ini bukan termasuk sunnah. Bahkan hendaknya ia berdoa dengan doa Rasulullah:

“Ya Allah turunkanlah hujan di sekeliling kami, dan tidak dari atas kami. Ya Allah turunkanlah hujan di gunung, bukit, lembah dan di tempat tumbuhnya pepohonan.” (Muttafaq alaih 897-1014)

——————————–

? سنن تستحب عند نزول المطر

1⃣ السُـنة الأولى :

فقد كان النبي ﷺ إذا رأى المطر قال :

(( اللَّهمَّ صيِّبًا نافعًا ))

أي ??منهمرا متدفقا .

?? صححه الألباني في
? صحيح الأدب المفرد – رقم:(530)

2⃣ السُـنة الثانية :

كشف بعض البدن ليصيبه المطر:

عن أنس رضي الله عنه قال: أصابنا مع رسول الله ﷺ مطر . قال: فحسر رسول الله ﷺ عن ثوبه حتى أصابه
من المطر ، فقلنا: يا رسول الله! لم صنعت هذا ؟ قال :
(( لأنه حديث عهد بربه))

? صحيح مسلم: (2083)

حسر عن ثوبه أي: كشف بعض بدنه.

3⃣ السُـنة الثالثة :

أدعو الله أثناء نزول المطر فإن ذلك موضع إجابة لأنه يوافق نزول رحمة
من رحمات الله عز وجل كما ،

?? جاء عن النبي ﷺ :

(( ثِنتانِ ما تُرَدّانِ :

1 – الدُّعاءُ عند النِّداءِ ،
2 – و تحْتَ المَطَرِ ))

?? حسنه الألباني في
? صحيح الجامع – رقم: (3078)

4⃣ السُـنة الرابعة :

قل بعد نزول المطر :
(( مُطِرنا بفضلِ اللَّهِ ورحمتِهِ ))
ويأكد العمل بهذا الحديث واعتقاد
معناه في هذا العصر نظراً لأن بعض
الناس أصبح يُعلِّق نزول المطر على
الظواهر الجوية ويتشبث بأقوال أهل الأرصاد ، وفي الحديث أنه ﷺ صلى بالصحابة صلاة الصبح بالحديبية
في إثرِ السَّماءِ كانت منَ اللَّيلِ فلمَّا انصرفَ أقبلَ على النَّاسِ فقالَ ﷺ (( هل تدرونَ ماذا قالَ ربُّكم ؟
قالوا اللَّهُ ورسولُهُ أعلمُ !
قالَ قالَ أصبحَ من عبادي مؤمنٌ بي وكافرٌ فأمَّا من قالَ مُطِرنا بفضلِ اللَّهِ ورحمتِهِ فذلكَ مؤمنٌ بي كافرٌ بالكوكبِ وأما من قال مُطِرنا بنَوْءِ كذا وكذا
فذلكَ كافرٌ بي مؤمنٌ بالكواكبِ ))

? متفق عليه : (1038-71)

اللهمَّ ! حوالَينا ولا علينا اللهمَّ !على الآكامِ والظِّرابِ
وبطونِ الأوديةِ ، ومنابتِ الشجر

5⃣ السنة الخامسة :

عند شدة الأمطار وخوف الضرر قد يدعو بعضهم الله أن يُوقف المطر وهذا ليس من السنة ، بل عليه أن يدعو بدعاء النبي ﷺ: (( اللهمَّ ! حوالَينا ولا علينا اللهمَّ !على الآكامِ والظِّرابِ
وبطونِ الأوديةِ ، ومنابتِ الشجرِ ))

? متفق عليه : (1014-897)

@IbnAIarbi
http://cutt.us/WRFgL

Regards

Advertisements

LARANGAN MENGADU DOMBA, BAGIAN 02 DARI 03

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 07 Shafar 1439 H / 27 Oktober 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 24 | Larangan Mengadu Domba (Bagian 2 dari 3)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H24-2
~~~~~

LARANGAN MENGADU DOMBA, BAGIAN 02 DARI 03

 

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita melanjutkan pembahasan tentang “Bahaya namimah”.

Di antara hal yang menguatkan bahwasanya namimah adalah dosa besar adalah bahwasanya seorang yang melakukan namimah pasti dia melakukan ghībah, tetapi sebaliknya orang yang melakukan ghībah belum tentu melakukan namimah.

Oleh karenanya dalam hadīts yang pernah kita sebutkan yaitu:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melewati dua kuburan, beliau mengatakan:

“Dua penghuni kubur ini sedang di adzab yang satu (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari kencing. Sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namīmah (mengadu domba).”

(Hadīts riwayat Bukhāri dalam Al Jami’ Ash Shahīh (1/317-Fathul Bari), no. 216, 218, 1361, 1378, 6052 dan 6055)

Dalam sebagian riwayat, “Adapun yang satunya melakukan ghībah.”

Jadi, hadīts tentang dua orang yang diadzab di dalam kuburannya​, salah satunya dalam satu riwayat dia melakukan namimah dan dalam riwayat lain dia melakukan ghībah.

Apa perbedaan antara namimah dengan ghībah?

Ibnu Hajar rahimahullāh telah menjelaskan bahwasanya telah diperselisihkan di antara para ulamā perbedaan tentang ghībah dan namimah.

Apakah kedua perkara ini, perkara yang sama? Ataukah dua perkara ini perkara yang berbeda?

Yang rājih bahwasanya dua perkara ini berbeda.

√ Namimah itu kita menyebutkan tentang kondisi seseorang, lalu diceritakan kepada orang lain dengan niat untuk merusak di antara mereka berdua dan tanpa ridhā dia ceritakan apakah diketahui atau tidak diketahui oleh orang yang kita ceritakan.

√ Ghībah yaitu menceritakan kejelekan seseorang yang orang tersebut tidak ridhā untuk dia ceritakan.

Bedanya dimana?

Bedanya, kalau namimah ada niat untuk merusak di antara keduanya sedangkan ghībah tidak disyaratkan demikian.

Terkadang seorang melakukan ghībah dan dia tidak ada niat untuk mengadu domba di antara kedua belah pihak.

Oleh karenanya orang yang melakukan namimah dia pasti melakukan ghībah karena dia pasti menceritakan suatu yang tidak diridhāi oleh saudaranya untuk diceritakan.

Ada tambahan untuk sisi namimah, yaitu niatnya untuk memecah belah atau mengadu domba di antara dua kaum muslimin.

Oleh karenanya Ibnu Hajar berkata:

كل نميمة غيبة وليس كل غيبة نميمة

“Sesungguhnya setiap namimah pasti ghībah, dan tidak setiap ghībah namimah.”

Ikhwān dan Akhawāt yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini di antara hal yang menjelaskan bahwasanya namimah adalah dosa besar karena kita tahu ghībah adalah dosa besar dan namimah lebih parah daripada ghībah, karena di dalamnya ada sisi (keinginan) untuk kerusak hubungan dua orang.

Dan di antara hal yang menunjukkan namimah adalah perkara yang sangat buruk adalah karena namimah adalah bentuk menyakiti orang lain. Menyakiti dua orang yang mungkin tadinya baik, saling menyintai, kemudian dirusak dengan nammām (mengadu domba). Tentunya ini menganggu dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah melarang hal ini.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

(QS Al Ahzab: 58)

Justru kita dapati terlalu banyak dalīl yang menyerukan kepada kaum muslimin untuk saling menyintai, untuk saling menyayangi, untuk saling memberi udzur di antara mereka.

Bahkan di dalam Islām seorang boleh berdusta dalam rangka untuk mendamaikan.

Dalam hadīts, kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِي ثَلاَثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ

_”Tidaklah halal dusta kecuali pada tiga perkara, seorang suami berbohong kepada istrinya untuk membuat istrinya ridhā, berdusta tatkala perang, dan berdusta untuk mendamaikan (memperbaiki hubungan) diantara manusia.”

(Hadīts riwayat At Thirmidzi IV/331 no 1939 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albāniy kecuali lafazh [Untuk membuat istrinya ridhā])

Di dalam Islām seorang boleh berdusta dalam rangka untuk mendamaikan dua orang yang sedang bersengketa. Sedangkan namimah malah merusak dua orang yang saling menyintai.

Oleh karenanya, namimah merupakan dosa besar karena memutus hubungan antara dua orang yang saling menyintai atau dua pihak yang saling menyintai. Ini merupakan dosa besar dan sangat bertentangan dengan syari’at Islām.

Kemudian, di antara hal yang memperburuk namimah adalah namimah merupakan bentuk mencari-cari kesalahan orang lain. Karenanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلم يَدْخُل الإيمَانُ قَلْبَهُ ! لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai orang yang imannya masih sebatas lisannya dan belum masuk ke hati, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim, janganlah kalian mencari-cari aurat (‘aib) mereka. Karena barang siapa yang selalu mencari-cari kesalahan mereka, maka Allah akan membongkar kesalahannya, serta barang siapa yang diungkap auratnya oleh Allah, maka Dia akan memperlihatkannya (aibnya) di rumahnya.”

(Hadīts riwayat Ahmad nomor 18940)

Orang yang melakukan namimah, dia banyak mengumpulkan kemungkaran.

Di antara hal yang menunjukkan buruknya namimah, pelaku namimah akan menderita pada hari kiamat.

Bukankah dalam hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?”

Para shahābat menjawab:

“Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

Tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

“Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalāt, puasa dan zakāt, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.”

(Hadīts riwayat Muslim nomor 2581, At Tirmidzi nomor 2418)

Namimah bisa menyebabkan ini semua. Namimah bisa menyebabkan:

√ Si A mencela si B, si B mencela si A.

√ Si A memukul si B, si B memukul si A.

Saling menuduh bahkan bisa berlanjut dengan pertumbahan darah. Semuanya gara-gara namimah.

Oleh karenanya jika namimah menyebabkan orang terjerumus ke dalam kebangkrutan, bagaimana lagi pelaku namimah tersebut.

Demikian, In Syā Allāh kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya.

Wallāhu Ta’āla A’lam bishawab.

TAHUKAH ENGKAU ORANG SIAPA YANG BANGKRUT

*🔎💥TAHUKAH ENGKAU ORANG SIAPA YANG BANGKRUT?!*

📁Dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ))

🔸"Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang bangkrut) itu?”

🔹Para sahabat menjawab:
"Muflis (orang yang bangkrut) diantara kami itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

🔸Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Muflis (orang yang bangkrut) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat,

❌Namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak).

🗂Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya,

↪kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka”.

📚HR Muslim no. 2581, at Tirmizi no. 2418 dan Ahmad (2/303, 334, 371).

========

Regards

KEUTAMAAN SURAT “QUL HUWALLĀHU AHAD”

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 17 Dzulhijjah 1538 H / 08 September 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Tafsir Juz 30 | Surat Al Ikhlāsh Dan Mu’awwidzatain (Bagian 02)
📖 Surat Al Ikhlāsh Bagian 02 | Keutamaan Surat "Qul Huwallāhu Ahad"
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-K002
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

KEUTAMAAN SURAT "QUL HUWALLĀHU AHAD"

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه

Para pendengar yang di rahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita lanjutkan pengajian kita dari tafsir Juz’amma yaitu surat "Qul Huwallāhu Ahad".

Para ulamā menjelaskan yang dimaksud dengan surat "Qul Huwallāhu Ahad" adalah sepertiga Al Qurān bukan berarti kalau ada orang baca "Qul Huwallāhu Ahad" 3 (tiga) kali berarti telah membaca satu Al Qurān, bukan begitu maksudnya.

Dijelaskan oleh para ulamā seperti Al Hafizh Al Qurthubi rahimahullāh dalam tafsirnya dan juga para ulamā yang lain, kenapa surat "Qul Huwallāhu Ahad" dikatakan sepertiga Al Qurān?

Karena kandungam dalam Al Qurān ada 3 (tiga) perkara, yaitu :

⑴ Masalah ahkam (hukum-hukum yang dikandung oleh Al Qurān).

⑵ Al Wa’du wa Al Wa’id (Janji Allāh dan ancaman Allāh (Surga dan Neraka)).

⑶ Masalah Asmaul Sifat (Nama-nama Allāh dan Sifat-sifat Allāh).

Sebagaimana penjelasan dari Imām Al Qurthubi.

Oleh karenanya barangsiapa yang membaca "Qul Huwallāhu Ahad" yang kandungan surat, seluruh isinya, tentang sifat-sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka seakan-akan dia sudah membaca sepertiga bagian daripada Al Qurān.

Para ulamā lain menyatakan, Al Qurān terdiri atas 3 (tiga), yaitu :

⑴ Sepertiga yang pertama masalah hukum-hukum.

⑵ Sepertiga yang kedua mengenai masalah qashsah kisah-kisah.

⑶ Sepertiga yang ketiga masalah aqidah.

Dan surat "Qul Huwallāhu Ahad" seluruhnya isinya tentang aqidah.

Dari sini, barangsiapa yang membaca surat "Qul Huwallāhu Ahad" maka seakan-akan dia sudah membaca sepertiga Al Qurān.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah mengatakan, "Barangsiapa yang membaca Qul Huwallāhu Ahad 3 (tiga) kali berarti dia membaca satu Al Qurān penuh."

Bahkan tatkala ada seorang shahābat yang menceritakan kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang shahābat yang lain yang mengulang-ulang surat "Qul Huwallāhu Ahad" maka Nabi hanya mengatakan surat, "Qul Huwallāhu Ahad" seperti sepertiga Al Qurān."

Ini menunjukan bahwasanya dinilai dari sisi kandungan surat "Qul Huwallāhu Ahad", yaitu mengandung makna aqidah atau mengandung nama-nama dan sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dalam hadīts yang lain dalam Shahīh Bukhāri, suatu saat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengirim sariyyah (pasukan perang) yang pimpin oleh seorang shahābat.

Tatkala berangkat pasukan tersebut, pimpinan mereka setiap kali shalāt (menjadi Imām mereka) setiap selesai membaca surat di akhiri dengan membaca "Qul Huwallāhu Ahad".

√ Raka’at pertama dia membaca surat kemudian surat "Qul Huwallāhu Ahad" (sampai selesai) baru dia ruku’ Allāhu Akbar.

√ Raka’at keduapun demikian, dia baca Al Fātihah kemudia dia membaca surat, selesai membaca surat, dia baca lagi surat "Qul Huwallāhu Ahad" (sampai selesai) baru kemudian dia ruku’.

Maka ini dilaporkan kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam karena para shahābat merasa heran (aneh) dengan sikap shahābat ini, maka Nabi menyuruh mereka untuk bertanya kepada shahābat ini, mengapa dia senantiasa mengakhiri raka’atnya dengan membaca "Qul Huwallāhu Ahad.

Maka dia mengatakan:

"Surat Qul Huwallāhu Ahad sifat Ar Rahman."

Dia suka dengan surat ini karena berisi sifat-sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :

أَخْبِرُوْهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ

"Kabarkanlah kepada dia bahwasanya Allāh cinta juga kepada dia (sebagaimana dia cinta Qul Huwallāhu Ahad)."

(Hadits Riwayat Muslim nomor 1347, versi Syarh Muslim nomor 813)

Karena dalam surat tersebut mengandung sifat-sifat Allāh, maka Allāh juga mencintai.

Dalam riwayat yang lain yang juga termaktub dalam Shahīh Al Bukhāri akan tetapi diriwayatkan oleh takliqan majzuman, disebutkan ada seorang shahābat dari kaum anshār yang memimpin para shahābat di masjid Quba’ (menjadi Imām) namun orang ini kebalikannya, setiap dia shalāt, setiap raka’at dia buka dulu dengan surat "Qul Huwallāhu Ahad" baru kemudian dia baca surat yang lain, raka’at berikutnya pun demikian.

√ Raka’at pertama dia baca "Qul Huwallāhu Ahad" kemudian dia baca surat yang lain.

Demikianlah kebiasaan orang ini, maka para ma’mum (para shahābat) heran bertanya kepada dia.

"Wahai Imām kami, kenapa anda demikian, setiap membaca surat selalu dibuka dengan surat "Qul Huwallāhu Ahad" baru kemudian membaca surat yang lain?"

Apakah "Qul Huwallāhu Ahad" ini tidak cukup?

Kalau dia sudah cukup sebagai bacaan setelah Al Fātihah, ya sudah "Qul Huwallāhu Ahad" saja atau baca surat yang lain saja.

(Dua pilihan baca surat "Qul Huwallāhu Ahad" saja atau baca surat yang lain) tapi engkau gabungkan "Qul Huwallāhu Ahad" dengan surat yang lain?

Maka dia mengatakan:

"Kalau kalian mau saya jadi Imām seperti ini atau kalian cari Imām yang lain?"

Namun mereka tidak mau mencari Imām yang lain, karena orang ini yang paling afdal diantara mereka dalam bacaan Al Qurān.

Akhirnya mereka melaporkan hal ini kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya kepada dia, dan dia mengatakan:

فإِنِّي أُحِبُّهَا

"Saya mencintai surat "Qul Huwallāhu Ahad."

Maka kata Nabi:

حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَـنَّةَ

"Kecintaanmu terhadap surat ini memasukan engkau kedalam Surga."

(Hadits Riwayat Bukhari nomor 774)

Ini dalīl akan keutamaan surat "Qul Huwallāhu Ahad".

Dalam satu hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ahmad meskipun sanadnya diperselisihkan akan tetapi sebagian ulamā menyatakan hadīts ini hujjah, bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan :

مَنْ قَرَأَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْراً فِى الْجَنَّةِ

"Barangsiapa membaca surat "Qul Huwallāhu Ahad" 10 (sepuluh) kali, maka Allāh akan membangunkan bagi dia istana di Surga."

(Hadīts Riwayat Ahmad, 3: 437 Syaikh Al Albāniy rahimahullāh dalam Ash Shahīhah mengatakan bahwa hadīts ini hasan dengan berbagai penguat)

Kita telah jelaskan bagaimana keutamaan surat "Qul Huwallāhu Ahad", terlalu banyak keutamaannya.

Barangsiapa yang mencintainya bisa menyebabkan dia masuk dalam Surga.

Hal ini tidak lain menunjukan akan keagungan surat "Qul Huwallāhu Ahad".

Ternyata benar surat ini dikatakan surat Al Ikhlāsh (surat keikhlāsan) karena memang murni diturunkan oleh Allāh untuk menjelaskan tentang sifat-sifat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karenanya para ahli tafsir seperti Ibnu Katsīr, Al Qurthubi dan yang lainnya menyebutkan sebab turunnya surat ini yaitu orang-orang musyrikin datang menemui Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan berkata:

انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ

"(Wahai Muhammad,) sebutkan nisbah (bagaimana sifat) Tuhan engkau (jelaskan kepada kami)?"

Maka turunlah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ {1} اللَّهُ الصَّمَدُ {2} لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ {3} وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ {4}

(Hadits Riwayat at Tirmidzi nomor 3287, versi Maktabatu Al Ma’arif Riyadh nomor 3364)

______________________

Regards

Keutamaan Bulan Muharram

🗓🌍 Keutamaan Bulan Muharram

☝🏼Muharram termasuk salah satu dari empat Bulan Haram (bulan-bulan yang memiliki kehormatan lebih dibandingkan bulan-bulan yang lainnya) dalam Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an (yang ertinya):

📖 “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya EMPAT BULAN HARAM.” (At-Taubah: 36)

☝🏼Keempat-empat bulan itu adalah:
1⃣ Muharram,
2⃣ Rajab,
3⃣ Dzulqa’dah, dan
4⃣ Dzulhijjah,
sebagaimana yang dideklarasikan oleh Rasulullah ﷺ ketika haji perpisahan.

✅ Disebut Bulan Haram kerana ia mengandung kemuliaan lebih (dari bulan-bulan lainnya) dan kerana pada bulan-bulan ini diharamkan untuk berperang. (Tafsir As-Si’di, hlm.192)

🌹Cukuplah menunjukkan kemuliaan bulan Muharram ini ketika Rasulullah ﷺ menjulukinya sebagai bulan Allah, baginda ﷺ bersabda:

📕“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah berpuasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR Muslim, no.1982 dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه)

☝🏼Kata para ulama, segala sesuatu yang disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla itu memiliki kemuliaan lebih daripada yang tidak disandarkan kepadaNya, seperti Baitullah (rumah Allah), Rasulullah (utusan Allah), dan lain-lain.

✒ Dalam Islam, bulan Muharram memiliki nilai sejarah yang luar biasa;
📌 Pada bulan ini, tepatnya pada tanggal sepuluh, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dan kaumnya dari kejaran Fir’aun dan bala tenteranya serta menenggelamkan mereka di laut merah.

📌 Di bulan ini juga Rasulullah ﷺ bertekad kuat untuk berhijrah ke negeri Madinah, setelah mendengar bahawa penduduknya siap berjanji setia membela dakwah baginda. Walaupun begitu, tekad kuat baginda ni hanya baru dapat terealisasikan pada bulan Safar.

🔖 Selain itu, di bulan ini terdapat ibadah puasa yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ sebagai puasa terbaik setelah Ramadhan sebagaimana hadits di atas.

📕Baginda ﷺ juga bersabda ketika ditanya tentang keutamaannya: “Menghapuskan dosa-dosa tahun yang lalu.” (HR Muslim, no.1977 dari sahabat Abu Qotadah Al-Anshari رضي الله عنه)

📂 http://manhajul-anbiya.net

Reagards,