Monthly Archives: October 2017

Larangan Mengadu Domba (Bagian 3 dari 3)

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 08 Shafar 1439 H / 28 Oktober 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 24 | Larangan Mengadu Domba (Bagian 3 dari 3)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H24-3
~~~~~~~~~~~~~~

*LARANGAN MENGADU DOMBA BAGIAN, 03 DARI 03*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita melanjutkan pembahasan tentang "Bahaya Namimah".

Bagaimana kalau ada orang datang kepada kita kemudian orang tersebut melakukan namimah?

Orang tersebut melakukan namimah menceritakan kejelekan orang lain kepada kita kemudian kita membenci orang tersebut?

Yang pertama kita harus ingat sebagaiman perkataan Hasan Al Basri rahimahullāh, beliau berkata:

"Barangsiapa menukil namīmah (keburukan orang lain atau orang tersebut menceritakan kejelekan orang lain) kepadamu yakinlah suatu saat dia akan menceritakan keburukanmu kepada orang lain juga."

Jadi sama seperti kata orang kalau kamu mendengar orang mengghībah orang lain maka suatu saat kamu akan dighībahi juga oleh orang tersebut.

Sama jika kamu mendengar seorang melakukan namimah di depanmu maka suatu saat orang tersebut akan menamimahmu (menceritakan keburukanmu) kepada orang lain. Maka harus hati-hati.

Ada nasehat yang indah dari Imām Nawawi rahimahullāh, beliau menukil dari Al Ghazali sebagaimana beliau nukil dalam kitābnya Syahrul Al Minhaj (Sharah Shahīh Muslim), beliau berkata tentang orang yang melakukan namimah:

وكل من حملت إليه نميمة ، وقيل له : فلان يقول فيك ، أو يفعل فيك كذا ، فعليه ستة أمور :
الأول : ألا يصدقه لأن النمام فاسق .
الثاني : أن ينهاه عن ذلك ، وينصحه ويقبح له فعله .
الثالث : أن يبغضه في الله تعالى فإنه بغيض عند الله تعالى ، ويجب بغض من أبغضه الله تعالى .
الرابع : ألا يظن بأخيه الغائب السوء .
الخامس : ألا يحمله ما حكي له على التجسس والبحث عن ذلك .
السادس : ألا يرضى لنفسه ما نهي النمام عنه ; فلا يحكي نميمته عنه ، فيقول : فلان حكى كذا فيصير به نماما، ويكون آتيا ما نهي عنه.

_“Setiap orang yang dinukil namimah kepadanya maka orang yang di namimahi ini hendaklah melakukan 6 perkara:_

_(1) Jangan dia benarkan perkataan nammām ini._

_(2) Larang dia, lalu nasehati orang tersebut dan menjelekkan yang dilakukannya_

_(3) Dia harus membenci orang ini karena Allāh, karena orang yang melakukan nammām (tukang namimah) dibenci disisi Allāh, dan kita wajib membenci orang yang dibenci oleh Allāh._

_(4) Jangan dia berburuk sangka kepada saudaranya yang tidak hadir dihadapannya._

_(5) Jangan sampai kabar yang dia dengar dari tukang namimah ini membuat dia akhirnya mencari-cari kabar (tajassus),tidak perlu!_

_(6) Jangan sampai dia ridhā untuk dirinya dan dia terjerumus dalam namimah.”_

Jadi:

==> ⑴ Jangan dia benarkan perkataan nammām ini.

Karena orang yang melakukan namimah adalah orang fasiq.

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

_"Wahai orang-orang yang berimān! Jika seseorang yang fāsiq datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."_

(QS Al Hujurāt: 6)

⇒ Orang fāsiq kabarnya tidak diterima, maka jangan membenarkan perkataannya.

==> ⑵ Larang dia. Katakan:

√ "Kenapa engkau melakukan ini dihadapan saya?"

√ "Kenapa engkau mengadu domba di antara dia dengan saya?"

√ "Kenapa engkau ceritakan dia kepadaku?"

Lalu nasehati orang tersebut dan jangan lupa hendaknya dia sampaikan kejelekan dari apa yang dilakukannya.

Nasehati orang tersebut, katakan bahwa perbuatannya sangat buruk dan merupakan dosa besar dan lainnya.

==> ⑶ Dia harus membenci orang ini karena Allāh.

Karena orang yang melakukan nammām (tukang namimah) dibenci disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan kita tahu, kita wajib membenci orang yang dibenci oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pelaku namimah dibenci oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

==> ⑷ Jangan dia berburuk sangka kepada saudaranya yang tidak hadir dihadapannya.

Karena tukang namimah ini pasti ngawur karena dia orang fāsiq, jangan kita berburuk sangka kepada saudara kita.

==> ⑸ Jangan sampai kabar yang didengar dari tukang namimah ini membuat dia akhirnya mencari-cari kabar (tajassus), tidak perlu!

==> ⑹ Jangan sampai dia ridhā untuk dirinya dan dia terjerumus dalam namimah.

Bila dia tidak suka dengan pelaku namimah di depan dia, maka dia juga jangan jadi tukang namimah.

Setelah itu kata Imām Nawawi rahimahullāh:

وكل هذا المذكور في النميمة إذا لم يكن فيها مصلحة شرعية فإن دعت حاجة إليها فلا منع منها

_“Enam perkara ini kita lakukan lalu kita tinggalkan namimah dan kita nasehati orang yang melakukan namimah dihadapan kita kecuali kalau ada maslahat.”_

Adapun kalau memang ada hajat (maslahat yang syari’) yang mengharuskan kita untuk croscek maka tidak jadi masalah.

Misalnya ada seorang yang datang kepada kita dan mengabarkan bahwasanya, "Si Fulān ingin membunuh mu," "Si Fulān ingin mencelakakan keluargamu," "Si Fulān ada rencana mengambil hartamu," orang seperti ini bukan namimah tetapi orang ini sayang kepada kita.

Kita harus jeli tatkala melihat suatu perkara.

Wallāhu Ta’āla A’lam.

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS

Advertisements

Tafsir Quran surat Al Hajj ayat 5

Kitab Aqidah bag. 4

LARANGAN MENGADU DOMBA, BAGIAN 02 DARI 03

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 07 Shafar 1439 H / 27 Oktober 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 24 | Larangan Mengadu Domba (Bagian 2 dari 3)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H24-2
~~~~~

LARANGAN MENGADU DOMBA, BAGIAN 02 DARI 03

 

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita melanjutkan pembahasan tentang “Bahaya namimah”.

Di antara hal yang menguatkan bahwasanya namimah adalah dosa besar adalah bahwasanya seorang yang melakukan namimah pasti dia melakukan ghībah, tetapi sebaliknya orang yang melakukan ghībah belum tentu melakukan namimah.

Oleh karenanya dalam hadīts yang pernah kita sebutkan yaitu:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melewati dua kuburan, beliau mengatakan:

“Dua penghuni kubur ini sedang di adzab yang satu (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari kencing. Sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namīmah (mengadu domba).”

(Hadīts riwayat Bukhāri dalam Al Jami’ Ash Shahīh (1/317-Fathul Bari), no. 216, 218, 1361, 1378, 6052 dan 6055)

Dalam sebagian riwayat, “Adapun yang satunya melakukan ghībah.”

Jadi, hadīts tentang dua orang yang diadzab di dalam kuburannya​, salah satunya dalam satu riwayat dia melakukan namimah dan dalam riwayat lain dia melakukan ghībah.

Apa perbedaan antara namimah dengan ghībah?

Ibnu Hajar rahimahullāh telah menjelaskan bahwasanya telah diperselisihkan di antara para ulamā perbedaan tentang ghībah dan namimah.

Apakah kedua perkara ini, perkara yang sama? Ataukah dua perkara ini perkara yang berbeda?

Yang rājih bahwasanya dua perkara ini berbeda.

√ Namimah itu kita menyebutkan tentang kondisi seseorang, lalu diceritakan kepada orang lain dengan niat untuk merusak di antara mereka berdua dan tanpa ridhā dia ceritakan apakah diketahui atau tidak diketahui oleh orang yang kita ceritakan.

√ Ghībah yaitu menceritakan kejelekan seseorang yang orang tersebut tidak ridhā untuk dia ceritakan.

Bedanya dimana?

Bedanya, kalau namimah ada niat untuk merusak di antara keduanya sedangkan ghībah tidak disyaratkan demikian.

Terkadang seorang melakukan ghībah dan dia tidak ada niat untuk mengadu domba di antara kedua belah pihak.

Oleh karenanya orang yang melakukan namimah dia pasti melakukan ghībah karena dia pasti menceritakan suatu yang tidak diridhāi oleh saudaranya untuk diceritakan.

Ada tambahan untuk sisi namimah, yaitu niatnya untuk memecah belah atau mengadu domba di antara dua kaum muslimin.

Oleh karenanya Ibnu Hajar berkata:

كل نميمة غيبة وليس كل غيبة نميمة

“Sesungguhnya setiap namimah pasti ghībah, dan tidak setiap ghībah namimah.”

Ikhwān dan Akhawāt yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini di antara hal yang menjelaskan bahwasanya namimah adalah dosa besar karena kita tahu ghībah adalah dosa besar dan namimah lebih parah daripada ghībah, karena di dalamnya ada sisi (keinginan) untuk kerusak hubungan dua orang.

Dan di antara hal yang menunjukkan namimah adalah perkara yang sangat buruk adalah karena namimah adalah bentuk menyakiti orang lain. Menyakiti dua orang yang mungkin tadinya baik, saling menyintai, kemudian dirusak dengan nammām (mengadu domba). Tentunya ini menganggu dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah melarang hal ini.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

(QS Al Ahzab: 58)

Justru kita dapati terlalu banyak dalīl yang menyerukan kepada kaum muslimin untuk saling menyintai, untuk saling menyayangi, untuk saling memberi udzur di antara mereka.

Bahkan di dalam Islām seorang boleh berdusta dalam rangka untuk mendamaikan.

Dalam hadīts, kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِي ثَلاَثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ

_”Tidaklah halal dusta kecuali pada tiga perkara, seorang suami berbohong kepada istrinya untuk membuat istrinya ridhā, berdusta tatkala perang, dan berdusta untuk mendamaikan (memperbaiki hubungan) diantara manusia.”

(Hadīts riwayat At Thirmidzi IV/331 no 1939 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albāniy kecuali lafazh [Untuk membuat istrinya ridhā])

Di dalam Islām seorang boleh berdusta dalam rangka untuk mendamaikan dua orang yang sedang bersengketa. Sedangkan namimah malah merusak dua orang yang saling menyintai.

Oleh karenanya, namimah merupakan dosa besar karena memutus hubungan antara dua orang yang saling menyintai atau dua pihak yang saling menyintai. Ini merupakan dosa besar dan sangat bertentangan dengan syari’at Islām.

Kemudian, di antara hal yang memperburuk namimah adalah namimah merupakan bentuk mencari-cari kesalahan orang lain. Karenanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلم يَدْخُل الإيمَانُ قَلْبَهُ ! لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai orang yang imannya masih sebatas lisannya dan belum masuk ke hati, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim, janganlah kalian mencari-cari aurat (‘aib) mereka. Karena barang siapa yang selalu mencari-cari kesalahan mereka, maka Allah akan membongkar kesalahannya, serta barang siapa yang diungkap auratnya oleh Allah, maka Dia akan memperlihatkannya (aibnya) di rumahnya.”

(Hadīts riwayat Ahmad nomor 18940)

Orang yang melakukan namimah, dia banyak mengumpulkan kemungkaran.

Di antara hal yang menunjukkan buruknya namimah, pelaku namimah akan menderita pada hari kiamat.

Bukankah dalam hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?”

Para shahābat menjawab:

“Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

Tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

“Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalāt, puasa dan zakāt, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.”

(Hadīts riwayat Muslim nomor 2581, At Tirmidzi nomor 2418)

Namimah bisa menyebabkan ini semua. Namimah bisa menyebabkan:

√ Si A mencela si B, si B mencela si A.

√ Si A memukul si B, si B memukul si A.

Saling menuduh bahkan bisa berlanjut dengan pertumbahan darah. Semuanya gara-gara namimah.

Oleh karenanya jika namimah menyebabkan orang terjerumus ke dalam kebangkrutan, bagaimana lagi pelaku namimah tersebut.

Demikian, In Syā Allāh kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya.

Wallāhu Ta’āla A’lam bishawab.

Larangan Mengadu Domba (Bagian 1 dari 3)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 06 Shafar 1439 H / 26 Oktober 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 24 | Larangan Mengadu Domba (Bagian 1 dari 3)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H24-1
~~~~~~~~~~~~~~~

*LARANGAN MENGADU DOMBA, BAGIAN 01 DARI 03*

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita masuk pada pembahasan yang baru yaitu hadīts ke-24, yaitu tentang peringatan terhadap dosa namimah.

وَعَنْ حُذَيْفَةَ – رضى الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -{ لَا يَدْخُلُ اَلْجَنَّةَ قَتَّاتٌ }

_Dari shahābat Hudzaifah radhiyallāhu ‘anhu beliau berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:_

_“Tidak akan masuk surga al-qattat (tukang adu domba.”_

(HR Bukhāri nomor 5596, versi Fathul Bari nomor 6056 dan Muslim nomor 153, versi Syarh Muslim nomor 105)

Sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ,

Ada beberapa tafsiran, yaitu:

(1) Tidak akan masuk surga jika seseorang menghalalkan perbuatan namimah.

Barangsiapa menghalalkan perbuatan dosa besar maka dia keluar dari Islām.

Namun jarang, kebanyakan orang melakukan namimah, dia tidak merasa itu berbuatan yang halal.

Jadi seorang yang menghalalkan suatu dosa maka dia keluar dari Islām.

Ada orang berzina namun dia tahu bahwa itu adalah kesalahan, maka dia tidak keluar dari Islām.

Tetapi ada seorang, meskipun dia tidak berzina namun dia mengatakan zina itu dihalalkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka dia telah keluar dari Islām karena dia telah mengingkari syari’at Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Namun kebanyakan orang berzina, dia tahu dan merasa salah.

Sama seperti namimah. Kebanyakan orang melakukan namimah dan dia tahu bahwasanya namimah adalah perbuatan buruk, dia tahu akan hal tersebut dan dia tidak mengatakan Allāh menghalalkan namimah.

Jadi tafsiran pertama: ل اَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ ( tidak akan masuk surga) yang maksudnya kāfir ini dibawakan kepada orang yang menganggap namimah itu dihalalkan oleh Allāh (namun ini jarang).

⑵ Tidak masuk surga orang yang melakukan namimah artinya dia tidak akan masuk surga bersama orang-orang yang pertama masuk surga.

Artinya dia harus terhalangi dahulu, harus masuk neraka dahulu, tidak bisa masuk surga sebagaimana orang-orang yang shālih masuk pertama kali kedalam surga.

Adapun: قَتَّاتٌ (qattāt) ini datang dalam shighah mubalaqah artinya menunjukkan seringnya perbuatan tersebut.

⇒Qatta – yaqutu – qattan artinya namimah

Al qattat = nammām, yaitu orang yang suka melakukan namimah, sebagaimana disebutkan di dalam sebagian riwayat.

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

_"Tidak masuk Surga orang yang suka namimah (mengadu domba)."_

(Hadīts riwayat Muslim)

⇒Jadi qattāt maknanya sama dengan nammām, yaitu orang yang melakukan namimah.

Dikatakan oleh Ibnu Atsīr rahimahullāh ta’āla:

"Seorang dikatakan qattāl hadītsa, melakukan yang qattā terhadap pembicaraan, jika dia persiapkan perkataan, dia perindah, dia melakukan kedustaan agar niat dia untuk mengadakan kerusakan di antara dua pihak. Dan ini dilakukan juga oleh nammām."

Jadi namimah maknanya yaitu, orang menukil perkataan dari satu pihak kepada pihak lain yang niatnya agar timbul pengrusakan di antara mereka (memutuskan hubungan di antara mereka).

Secara umum qattāt dan nammām maknanya sama karena keduanya datang dalam riwayat. Tetapi sebagian ulamā membedakan antara qattāt dengan nammām.

√ Qattāt yaitu seorang yang dia mendengarkan perkataan suatu kaum (dia tidak bersama mereka) tetapi dia berusaha mendengar perkataan mereka kemudian ditangkap lalu dia nukilkan kepada kaum yang lain agar terjadi kerusakan di antara dua kelompok tersebut.

√ Nammām yaitu seorang duduk bersama mereka seakan-akan merupakan bagian dari mereka, kemudian dia menukil apa yang mereka bicarakan kepada pihak yang lain kemudian dia pergi kepada pihak yang kedua dia sampaikan perkataan mereka.

Dan sebaliknya, ketika dia berada di pihak kedua seakan-akan dia berpihak kepada mereka, namun tatkala dia berada dipihak pertama dia akan menukil pembicaraan dari pihak kedua.

Sebagian ulamā membedakan antara nammām dengan qattāt.

Adapun qattāt dia tidak bersama mereka akan tetapi dia berusaha mencari berita, mendengarkan kemudian dia nukilkan kepada pihak yang lain.

Hadīts ini menunjukkan bahwasanya namimah adalah dosa besar dan terlalu banyak dalīl yang menunjukkan bahwa namimah adalah dosa besar.

Yang pertama dalam hadīts ini Rasūlullāh ahallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan dia tidak masuk surga dan ini merupakan ancaman yang keras.

Dalam Al Qur’ān Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyampaikan secara khusus di dalam surat Al Qalam ayat 11.

هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

_"Jangan ikuti orang-orang yang suka mencela dan suka berjalan ke sana kemari dengan namimah (untuk melakukan kerusakan diantara kaum muslimin)."_

Di antara dalīl juga yang menyatakan bahwasanya namimah adalah dosa besar, Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ وَشِرَارُ عِبَادِ اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ الْبَاغُونَ الْبُرَآءَ الْعَنَتَ

_"Sebaik-baik hamba Allāh Subhānahu wa Ta’āla yaitu orang-orang yang jika lihat maka orang-orang akan mengingat Allāh, dan seburuk-buruk hamba Allāh adalah orang yang berjalan kesana kemari dengan namimah (mengadu domba) yaitu orang-orang yang memisahkan diantara orang-orang yang saling menyintai, menuduh orang yang baik dengan tuduhan yang tidak-tidak agar mencari kesusahan bagi mereka."_

(HR Ahmad nomor 17312)

Perhatikan, di sini Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan, "Orang terbaik adalah apabila dilihat mengingatkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla".

Seperti Muhammad bin Sirin, kalau beliau berjalan di pasar orang-orang melihat beliau, orang-orang semua akan mengingat Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kenapa?

Karena kondisi beliau yang selalu membuat orang lain mengingat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Adapun orang yang buruk, yaitu orang yang ke sana kemari dengan namimah yang menjadikan orang-orang yang saling menyintai menjadi berpisah karena perbuatannya.

Ini menunjukkan namimah adalah dosa besar.

Di antara hal lain yang menunjukkan bahwasanya namimah adalah dosa besar di dalam shahīhain Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ

_"Sesungguhnya manusia yang paling buruk adalah orang yang bermuka dua, yang mendatangi kaum dengan muka tertentu dan mendatangi lainnya dengan muka yang lain."_

(Hadīts riwayat Bukhāri dari Abū Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Di antara tafsir para ulamā, orang yang melakukan namimah maka dia akan seperti ini modelnya: tatkala melakukan namimah, dia pergi ke kelompok A, seakan-akan dia gabung dengan mereka. Kemudian menukil perkataan kelompok B yang buruk terhadap kelompok A. Dan begitu pula sebaliknya, tatkala pergi ke kelompok B seakan-akan dia termasuk kelompok B kemudian menukil perkataan kelompok A yang buruk terhadap kelompok B.

Demikian juga di antara dalīl yang menunjukkan bahwasanya namimah adalah dosa besar, adalah hadīts yang masyhur dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, bahwasanya Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam melewati dua kuburan kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berbicara:

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ

_"Sesungguhnya kedua penghuni kubur itu sedang disiksa, keduanya tidak disiksa karena dosa besar, salah satu di antara keduanya disiksa karena ia berjalan kesana dan kemari untuk menebar fitnah, sedangkan yang kedua disiksa karena tidak sempurna bersuci saat buang air kecil.”_

(HR Bukhari nomor 1273, versi Fathul Bari nomor 1361)

Ini dalīl bahwasanya orang yang melakukan namimah diancam oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diadzab dalam kubur.

Dalam hadīts yang lain dari Abdullāh bin Masu’d, beliau berkata:

إِنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ مَا الْعَضْهُ هِيَ النَّمِيمَةُ الْقَالَةُ بَيْنَ النَّاسِ

_Sesungguhnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:_

_"Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang al adhhu?”_

_Beliau melanjutkan:_

_"Yaitu mengadu domba yang disebarkan di antara manusia."_

(HR Muslim nomor 4718, versi Syarh Muslim nomor 2606)

==> Al Adhhu (الْعَضْهُ ) dalam bahasa Arab artinya kedustaan dan sihir.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjelaskan yang dimaksud sihir oleh Nabi adalah namimah yang seorang berjalan kesana kemari dalam rangka untuk mengadu domba di antara manusia.

Hadīts ini menjelaskan bahwa namimah adalah bagian daripada sihir karena, di antara fungsi sihir adalah memisahkan antara orang-orang yang saling menyintai.

Di dalam Al Qur’ān disebutkan bahwasanya sihir :

يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ

_“Memisahkan antara suami dan istri.”_

(QS Al Baqarah: 102)

Padahal hubungan antara suami dan istri sangat luar biasa, bisa terpecah, bisa terputus karena sihir.

Demikian pula namimah, fungsi namimah ini seperti sihir bisa memisahkan di antara dua orang yang saling menyintai, bisa menjadikan dua kelompok saling bertentangan saling membunuh, semuanya karena ada namimah, ada yang mengadu domba.

Oleh karenanya bisa jadi dampak dari namimah (sihir), seorang ingin merusak hubungan suami dan istri, dia membutuh sihir selama setahun yang dibantu seorang dukun.

Terkadang namimah tidak perlu setahun, untuk memisahkan antara dua kelompok cukup sehari, sehingga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyamakan namimah dengan sihir.

Semua dalīl ini menunjukkan bahwasanya namimah adalah dosa besar.

In Syā Allāh, kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya.

Wallāhu Ra’āla A’lam bishawab.

Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS