Monthly Archives: October 2012

Taushiah Of The Day Puasa Sunnah di Awal Bulan Dzulhijjah

Puasa Sunnah di Awal Bulan Dzulhijjah

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Di antara keutamaan yang Allah berikan pada kita adalah Allah menjadikan awal Dzulhijjah sebagai waktu utama untuk beramal sholih terutama melakukan amalan puasa. Lebih-lebih lagi puasa yang utama adalah puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.

"Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun."

(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Jika puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah dikatakan utama, maka itu menunjukkan bahwa puasa pada hari-hari tersebut lebih utama dari puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulannya, bahkan lebih afdhol dari puasa yang diperbanyak oleh seseorang di bulan Muharram atau di bulan Sya’ban. Puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah bisa dikatakan utama karena makna tekstual yang dipahami dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(Keterangan di atas diambil dari penjelasan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath Thorifiy)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

1 Dzulhijah 1433H jatuh pada hari Rabu, 17 Oktober 2012

Berdasar Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 159 tahun 2012 tentang Penetapan 1 Dzulhijjah 1433 H

Sekretariat MTSGP
Masjid Ar Rahman | Perum Serpong Green Park | email : dkm.ar.rahman.sgp |

web : https://mtsgp.wordpress.com | Rek. ZAKAT, INFAQ, & SHADAQOH | BSM 702-4916-418

(an. Ahmad Kristriono W)

*********************************************************************************************

Jadwal Sholat untuk daerah DKI Jakarta dan sekitarnya 17 Oktober 2012/ 01 Dzulhijjah 1433H

Subuh : 04:15 | Dhuhur : 11:41 | Ashar 14:48 | Maghrib 17:48 | Isya 18:58

*********************************************************************************************

Supported by:

Taushiah Of The Day STOP!!! Jangan Dipotong Dulu….

STOP!!! Jangan Dipotong Dulu….

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Diriwayatkan oleh al Jama’ah kecuali Al Bukhari yaitu dari Ummu Salamah

radhiyallahu ‘anha,

“Jika kalian telah menyaksikan hilal Dzul Hijah (maksudnya telah memasuki satu Dzulhijah, pen) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban membiarkan (artinya tidak memotong) rambut dan kukunya.”

(HR. Muslim no.1977)

Untuk rekan-rekan yang berniat untuk berqurban, hendaknya tidak memotong rambut dan kukunya sebelum tanggal 10 Dzulhijah.

1 Dzulhijah 1433H jatuh pada hari Rabu, 17 Oktober 2012

Berdasar Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 159 tahun 2012 tentang Penetapan 1 Dzulhijjah 1433 H

Sekretariat MTSGP
Masjid Ar Rahman | Perum Serpong Green Park | email : dkm.ar.rahman.sgp |

web : https://mtsgp.wordpress.com | Rek. ZAKAT, INFAQ, & SHADAQOH | BSM 702-4916-418

(an. Ahmad Kristriono W)

*********************************************************************************************

Jadwal Sholat untuk daerah DKI Jakarta dan sekitarnya 16 Oktober 2012/ 30 Dzulqa’dah 1433H

Subuh : 04:15 | Dhuhur : 11:41 | Ashar 14:48 | Maghrib 17:49 | Isya 18:58

*********************************************************************************************

Supported by:

Alhamdulillah, Ini Hari Jum’at Kecerdasan Logika

Kecerdasan Logika

Assalamu’alaikum wr. wb.

 

Sahabat seiman..,

Bagaimana pagi kita? Semoga fitrah berkuasa, jernih logika menyempurna, dan stamina jasad siap sigap melaksana. Rasanya tak bijak bila ketajaman hati tak tersalur tadabbur, kejernihan logika tak tersubur tafakkur, dan kesungguhan amal tak berbekal tawakkal..

Sahabat seiman..,

Kapan hati kan tercerah, bergegas ingin berubah kala ia selalu menyerah dijajah logika. Mengapa selalu ada logika atas kesiangan sholat shubuh berjama’ah di masjid karena terlalu letih dan lelah, empuk alas tidur nan megah, atau agar paginya lebih bertenaga. Padahal, bukankah nikmatnya istirahat kala semakin lelah?. bisakah fasilitas mewah menjadi tantangan yang melipat ganda pahala, dan khusyu’nya ibadah menjadi tambahan tenaga..

Sahabat seiman..,

Berulang-ulang Allah mengingatkan bahwa tingginya kemuliaan, dahsyatnya tanda kebesaran, dan luar biasanya kekuatan kan diberikan bagi yang mampu memenangkan iman dengan kecerdasan logika (diantaranya Q.S. Ali Imran: 190-191,Ar Rum: 21). Jangan lupa, asah terus iman dengan kecerdasan logika, jemput kesuksesan, selamat beraktifitas!

Be A Profesional Muslim!

Embun Pagi Forsimpta

Oleh: Saiful Bahri, Lc

BDI_sgp Adakah kita masih ragu dengan perintah-Nya ( seputar Zakat Profesi)

Hukum Zakat Profesi : Bid’ah ?
Sumber DPU DT Jogja

1.Zaman Rasulullah SWT sudah ada profesi, misalnya akhli bangunan, tabib, dsb, tetapi mengapa beliau tidak mencantumkannya pada salah satu jenis zakat ?
2.Tidak mungkin hal tsb lepas dari pengawasannya. Tidakkah kita khawatir pelaksanaan fatwa zakat profesi akan masuk kategori bid’ah ?
3.Apabila kita membuat “hukum baru” dalam hal ibadah, hanya karena Rasulullah SWT tidak mencontohkannya, padahal Allah SWT dalam Al Qur’an sudah menyatakan, bahwa Islam sudah sempurna, dan hukum Islam untuk dipakai sampai akhir zaman, lalu apakah kita tidak khawatir akan dianggap telah menganggap “Allah SWT kurang sempurna” bahkan IA tidak menegur Rasulullah SAW dengan tidak mencantumkan zakat tsb kedalam salah satu jenis zakat, sehingga kita perlu menambah hukum Allah SWT dengan menerbitkan hukum zakat profesi ?. (Muhammad, Minomartani, Ngaglik)
Jawaban: 1. Apa yang Anda katakan benar, bahwa di zaman Rasulullah SAW sudah banyak profesi keahlian atau pengkhususan pekerjaan kepada ahlinya. Bahkan Rasulullah SAW pun pernah bersabda bahwa bila suatu pekerjaan tidak diserahkan kepada ahlinya (profesinya ?), maka tunggulah kehancurannya.
Dan Anda juga benar ketika mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menerapkan zakat profesi di masa itu, sementara sekian jenis profesi dan spesialisasi telah ada. Bahkan sampai sekian abad kemudian, umumnya para ulama pun tidak pernah menuliskan adanya zakat profesi di dalam kitab-kitab fiqih dalam bab khusus.
Maka bila hari ini ada sebagian ulama termasuk Anda di dalamnya yang mengatakan bahwa tidak ada zakat profesi di dalam syariat Islam, bisa diterima. Sebab dasar pengambilan hukumnya memang sudah tepat. Yaitu tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW dan juga tidak dipraktekkan oleh para shahabat beliau bahkan oleh para salafus shalih sekalipun.
2. Tapi untuk terburu-buru memvonis bahwa zakat profesi adalah bid’ah hanya karena kita menemukan contoh kongkritnya di masa Rasulullah SAW, tentu tidak sesederhana itu masalahnya. Sebab ketika kita mengatakan sebuah perbuatan itu sebagai bid’ah, maka konsekuensinya adalah kita memvonis bahwa pelakunya adalah ahli neraka. Masalahnya adalah apakah bisa disepakati bahwa semua fenomena yang tidak ada di masa Rasulullah SAW itu langsung dengan mudah bisa dijatuhkan ke dalam kategori bid’ah ?
Sebab bila memang demikian, maka mengeluarkan zakat dengan beras pun tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sedangkan kita semua di negeri ini dan di kebanyakan negeri muslim umumnya makan nasi dan zakat fitrahnya beras. Apakah kita ini pasti ahli bid’ah karena tidak berzakat dengan gandum ?
3. Zakat profesi menurut mereka yang mencetuskannya sebenarnya bukan hal yang baru. Bahkan para ulama yang mendukung zakat ini mengatakan bahwa landasan zakat profesi atau penghasilan itu sangat kuat, yaitu langsung dari Al-Quran Al-Kariem sendiri.
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari kasabmu (PENGHASILANMU) yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. (QS.Al Baqarah; 267)
Maka yang mewajibkan zakat profesi atau zakat penghasilan adalah Al-Quran Al-Kariem sendiri. Dan istilah kasab adalah istilah yang digunakan oleh Al-Quran Al-Kariem dan juga bahasa arabnya zakat profesi adalah kasab.
Selain itu mereka juga mengatakan bahwa profesi di masa Rasulullah SAW itu berbeda hakikatnya dengan profesi di masa kini. Sebab sebenarnya yang terkena zakat itu pada hakikatnya bukan karena dia berprofesi apa atau berdagang apa, tetapi apakah seseorang sudah masuk dalam kategori kaya atau tidak.
Dan memang benar bahwa zakat itu pada hakikatnya adalah memungut harta dari orang kaya untuk diserahkan kepada orang miskin. Persis seperti pesan Rasulullah SAW ketika mengutus Muaz bin Jabal ke Yaman. Rasulullah SAW mengatakan bahwa beritahukan kepada mereka bahwa Allah SWT telah memfaridhahkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang kaya mereka dan diberikan kepada orang miskin di antara mereka.
Masih menurut kalangan pendukung zakat profesi, maka meski di masa Rasulullah SAW ada beberapa jenis profesi, namun mereka tidaklah termasuk orang kaya dan penghasilan mereka tidak besar. Maka oleh Rasulullah SAW mereka pun tidak dipungut zakat.
Sebaliknya, di masa itu yang namanya orang kaya itu identik dengan pedagang, petani atau peternak atau mereka yang memiliki simpanan emas dan perak. Maka kepada mereka inilah zakat itu dikenakan. Meski demikian, jelas tidak semua dari mereka itu pasti kaya, karena itu ada aturan batas minimal kepemilikan atau yang kita kenal dengan nisab. Oleh Rasulullah SAW, nisab itu lalu ditentukan besarnya untuk masing-masing pemilik kekayaan. Dan sudah bisa dipastikan bahwa kalangan pekerja ‘profesional’ dimasa itu tidak akan pernah masuk dalam daftar orang kaya.
Lain halnya dengan masa sekarang ini. Yang kita sebut sebagai profesional di masa kita hidup ini bisa jadi orang yang sangat kaya dan teramat kaya. Jauh melebih kekayaan para petani dan peternak. Bahkan di negeri kita ini, yang namanya petani dan peternak itu sudah bisa dipastikan miskin, sebab mereka tertindas oleh sistem yang sangat tidak berpihak kepada mereka.
Kalau pak tani yang setiap hari mencangkul di sawah membanting tulang memeras keringat dan ketika panen, hasilnya tidak cukup untuk membayar hutang kepada rentenir itu diwajibkan membayar zakat, sementara tetangganya adalah seorang yang berprofesi sebagai pengacara kaya raya itu tidak wajib bayar zakat, dimanakah rasa keadilan kita ? Padahal pak pengacara itu sekali didatangi kliennya bisa langsung mengantungi 100 atau 200 juta.
Di lain tempat ada peternak yang miskin hidup berdampingan dengan tetangganya yang konsultan ahli yang sekali memberi advise bisa mengantongi ratusan juta, tentu sekali rasa keadilan itu terusik.
Benarkah Islam tidak mewajibkan zakat orang kaya yang nyata benar kekayaan berlimpah, hanya karena di masa Rasulullah SAW belum ada fenomena itu ? Dan wajarkah bila kita hanya memakai standar kekayaan dan jenis penghasilan yang ada di masa Rasulullah SAW saja ? Sedangkan pada kenyataannya, sudah banyak fenoimena itu yang sudah berubah ?
Tidakkah kita bisa membedakan esensi dari zakat yang utama yaitu mengambil harta dari orang kayadan diberikan kepada orang miskin ? Ataukah kita terpaku pada fenomena sosial yang ada di masa Madinah saja ?
Nah, argumentasi seperti itulah yang diajukan oleh para ‘pencetus’ zakat profesi sekarang ini. Dan bila kita secara tenang memahaminya, argumen itu relatif tidak terlalu salah. Paling tidak kita pun harus sadar bahwa kalau At-Taubah ayat 60 telang menyebutkan dengan detail siapa sajakah yang berhak menerima zakat, maka untuk ketentuan siapa sajakah yang berkewajiban mengeluarkan zakat, Al-Quran Al-Kariem tidak secara spesifik menyebutkannya. Sehingga penentuan siapa sajakah yang wajib mengeluarkan zakat bisa atau mungkin saja berkembang sesuai karakter zamannya. Namun intinya adalah orang kaya.
Kami bukan berarti menyalahkan pendapat yang mengatakan bahwa zakat profesi itu tidak ada dan bersikeras mengatakan bahwa zakat profesi itu ada. Sebab biar bagaimana pun, para ulama yang mendukung adanya zakat profesi itu pun tidak sepakat dalam menjabarkan tata aturannya dan juga cara penghitungannya. Mereka tetap masih berbeda-beda dalam hal itu meski sepakat atas adanya zakat profesi sesuai dengan dengan prinsip di atas.

Taushiah Of The Day Pergi Haji, insyaAllah…

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Haji termasuk ibadah yang mempunyai pengaruh besar dalam mendidik jiwa, berupa lepas diri dari gemerlap dunia, kembali kepada fitrah aslinya, ditempat untuk mengatasi kesulitan dan kepayahan dalam beribadah, mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah Azza wa Jalla dengan menahan diri dari setiap gangguan dan tindakan bermusuhan.

Allah berfirman,

“ (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji

[al-Baqarah/2:197]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barangsiapa berhaji karena Allah, lantas dia tidak berbuat keji dan melakukan kefasikan, maka dia pulang bagaikan hari dimana dia dilahirkan ibunya.

[HR al-Bukhâri no. 1424]

Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menjadikan Saudara-saudara kita yang sudah berhaji agar menjadi haji mabrur, mampu menjaga nilai-nilia yang telah diperolehnya dalam ibadah haji. Dan mengkaruniakan kepada yang belum berhaji kemampuan dan kemauan dalam menjalankan kewajiban Haji ini.