Monthly Archives: August 2012

Taushiah Of The Day Tanya-Jawab Puasa Syawal

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Pertanyaan

Apakah Puasa Syawal harus dilakukan langsung setelah lebaran (mulai tgl 2 Syawal) dan apakah harus berurutan?

Jawaban

“Hari-hari ini (berpuasa syawal-) tidak harus dilakukan langsung setelah ramadhan. Boleh melakukannya satu hari atau lebih setelah ‘Id, dan mereka boleh menjalankannya secara berurutan atau terpisah selama bulan Syawal, apapun yang lebih mudah bagi seseorang. … dan ini (hukumnya-) tidaklah wajib, melainkan sunnah.”

[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa’imah lil Buhuuts wal Ifta’, 10/391]

Pertanyaan

Syaikh Abduillah bin Jibrin ditanya : Jika seorang wanita berpuasa enam hari di bulan Syawal untuk mengqadha puasa Ramadhan, apakah ia mendapat pahala puasa enam hari Syawal ?

Jawaban

Disebutkan dalam riwayat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda (yang artinya) : “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari bulan Syawal maka seakan-akan ia berpuasa setahun”

Hadits ini menunjukkan bahwa diwajibkannya menyempurnakan puasa Ramadhan yang merupakan puasa wajib kemudian ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawal yang merupakan puasa sunnah untuk mendapatkan pahala puasa setahun. Dalam hadits lain disebutkan (yang artinya) : “Puasa Ramadhan sama dengan sepuluh bulan dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan dua bulan”

Yang berarti bahwa satu kebaikan mendapat sepuluh kebaikan, maka berdasarkan hadits ini barangsiapa yang tidak menyempurnakan puasa Ramadhan dikarenakan sakit, atau karena perjalanan atau karena haidh, atau karena nifas maka hendaknya ia menyempurnakan puasa Ramadhan itu dengan mendahulukan qadhanya dari pada puasa sunnat, termasuk puasa enam hari Syawal atau puasa sunat lainnya. Jika telah menyempurnakan qadha puasa Ramadhan, baru disyariatkan untuk melaksanakan puasa enam hari Syawal agar bisa mendapatkan pahala atau kebaikan yang dimaksud. Dengan demikian puasa qadha yang ia lakukan itu tidak bersetatus sebagai puasa sunnat Syawal.

Advertisements

Taushiah Of The Day Keutamaan Puasa Syawal

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”

(HR. Muslim no. 1164)

Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita untuk istiqomah dalam ketaatan hingga maut menjemput. Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga Allah menerima amalan kita semua di bulan Ramadhan dan memudahkan kita untuk menyempurnakannya dengan melakukan puasa Syawal.

Taushiah Of The Day Taqabbalallaahu Minna wa Minkum

Umar bin ‘Abdul Aziz, yang oleh sebagian ‘Ulama disebut termasuk sebagai Khulafaur Rosyidin yang kelima yang mengikuti jejak Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifatu rasulillah, berkata dalam Khutbah Idul Fitri di masanya:

“Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari (29 hari). Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya, kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. (dan sudah sepantasnyalah kalian berbahagia di hari ini) Namun (tahukah kalian) sebagian salaf (Shahabat, Thabi’in dan Tabi’ut Thabi’in) bersedih hati di hari raya Idul Fithri (ini). (Ketika) dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka menjawab, “Kalian benar (hari ini hari penuh kebahagiaan). Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.

(disadur dari kitab Lathaif al-Ma’arif, Ibnu Rajab al Hambali)

Didasari rasa khawatir (rohbah) dan harap (rogbah) amalan selama bulan ramadan ini diterima Allah maka para Salafusshalih pada hari Raya ‘Ied pada saat mereka bertemu setelah Shalat ‘Ied mereka saling berucap:

Taqabbalallahu minnaa waminkum

(Semoga Allah menerima [amal ibadah] dari kami dan darimu)

Seperti yang disebutkan dalam hadits:

Ibnu Qudamah dalam kitab "Al-Mughni" (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata: "Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat ‘Ied berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : Taqabbalallahu minnaa wa minka.” Imam Ahmad menyatakan : "Isnad hadits Abu Umamah jayyid (bagus)"

Ucapan ini keluar dari hati yang Rohbah, yang khawatir dirinya termasuk kelompok yang didoakan celaka oleh Jibril dan diaminkan Rasulullah karena keluar dari Ramadan dengan tetap menanggung dosa karena tidak adanya kebaikan yang diterima Allah yang dapat menghapus dosa-dosanya.

Ucapan ini keluar dari hati yang Rohbah, yang khawatir ibadahnya selama Ramadan tidak diterima Allah sehingga dirinya termasuk orang-orang yang merugi. Yang khawatir Ibadah shaumnya tidak diterima, yang khawatir ibadah sahur, tilawah al-Qur’an, shalat tarawih/qiyamul lail, zakat-infaq-shodaqoh, ibadah i’tikafnya tidak diterima. Yang khawatir tidak mendapatkan Lailatul Qadr, malam 1000 bulan, yang sangat ia butuhkan untuk mengimbangi banyaknya dosa yang telah diperbuat. Yang khawatir ibadah Shalat ‘Idul Fithri ini tidak diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ikhwatiy Fillaah, Saudaraku di Jalan Allah, mari kita saling mendoakan diantara kita : “TAQOBALALLAAHU MINNA WA MINKUM, Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan dari kamu/kalian.

Taushiah Of The Day Alhamdulillah yaa…

Minal Aidin Wal Faizin?!?

Tau nggak… kalau kalimat “Minal Aidin Wal Faizin” tidak dikenal dalam budaya Arab, apalagi dalam Islam. Ini Cuma tenar di Indonesia yang artinya agak sedikit “maksa” alias Cuma ada di kamus Bahasa Indonesia yang artinya adalah “Dari orang yang kembali dan orang-orang yang menang”

Ucapan selamat yang paling tepat ketika ‘Ied Fithri adalah:

“Taqabbalallahu Minnaa wa Mingkum”

(Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kalian)

Sebagaimana atsar berikut:

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fitri atau Idul Adha), satu sama lain saling mengucapkan “Taqabbalallahu minna wa minka”

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.

Seluruh Staf DKM Ar – Rahman mengucapkan

“SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI”

Taqobbalallahu Minnaa wa Mingkum

Taushiah Of The Day I’tikaf Harus di Masjid

I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala,

(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al Baqarah [2]: 187)

Walaupun I’tikaf harus di masjid, wanita juga boleh melakukan I’tikaf.

Dari ‘Aisyah, ia berkata,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.[
HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172.
]

Namun wanita boleh beri’tikaf di masjid asalkan memenuhi 2 syarat: (1) Meminta izin suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (godaan bagi laki-laki) sehingga wanita yang i’tikaf harus benar-benar menutup aurat dengan sempurna dan juga tidak memakai wewangian.[
Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/151-152.
]