Monthly Archives: April 2012

SUPER SUNDAY O Channel di SGP

Selamat Pagi Warga SGP,

Kompleks Serpong Green Park akan mengadakan event kerjasama dengan O Channel pada salah satu Program acara nya yaitu “SUPER SUNDAY”

Acara tersebut akan dilaksanakan pada :

Hari / Tanggal : Minggu / 22 April 2012
Waktu : Jam 07.00 sampai jam 11.00 Siang WIB
Lokasi : Bundaran SGP (Depan Masjid)

Acaranya adalah :

1. Jalan Santai keliling kompleks, Anak-anak boleh bawa sepeda

2. Senam Aerobik
3. Lomba Masak. Masing-masing RT satu perwakilan terdiri 3 Orang. Semua peralatan dan bahan sudah disediakan oleh O Channel.

4. Lomba Mewarnai. Panitia menyediakan kertas dan crayon, Meja tulis harap bawa sendiri2
5. Dr Cooking, menghadirkan Chef / Koki dari O Channel.
6. Hiburan, Organ Tunggal
7. Bazzar. Satu RT disediakan satu Bazzar.

* Semua Lomba diatas ada hadiah menarik

* 250 Pendaftar pertama pada hari H, akan mendapatkan Kaos dari O Channel
* Semua pendaftar diundi di akhir acara untuk mendapatkan Doorprize

So, mari kita ramaikan acara kebersamaan ini.

Salam Mantabs,
On Behalf of Panitia

Advertisements

Fikih Muslimah: Harta Suami, Untuk Siapa?

Selasa, 13 Maret 2012 12:57 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Seorang suami adalah pemimpin, penasihat, pelindung, sekaligus pengayom bagi keluarganya. Ia bertanggung jawab atas keamanan, keimanan, akhlak, dan kesejahteraan anak dan istrinya. Lalai dalam hal-hal tersebut, maka akan timbullah permasalahan keluarganya.

Selain dalam bidang keimanan dan akhlak, satu hal yang perlu diperhatikan adalah masalah kesejahteraan dalam rumah tangga. Ketika seorang suami, meninggalkan rumah tangganya untuk bekerja demi keluarganya, maka dia harus memberikan apa-apa yang menjadi kebutuhan rumah tangganya. Ia tidak dibenarkan meninggalkan keluarganya dalam keadaan kekurangan.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa: 9).

Ayat di atas menegaskan, larangan bagi setiap orang tua meninggalkan anak-anak mereka dalam keadaan miskin, kekurangan, bodoh, lapar, dan lain sebagainya. Bahkan, seharusnya seorang ayah (suami), menjadikan anak, istri, dan keluarganya sebagai penyejuk hati.

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Inilah salah satu tugas seorang ayah, suami, dan laki-laki untuk menjadikan anak dan istrinya menjadi qurrata a’yun (penyejuk hati). Selain itu, seorang ayah, suami, dan laki-laki, berkewajiban menjaga keluarganya dari siksa api neraka. (QS. At-Tahrim: 6).

Meninggalkan keluarga (anak, istri, dan orang tua) dalam keadaan kekurangan, kelaparan, miskin, dan bodoh, sangat besar dosanya di sisi Allah. Oleh karena itu, kewajiban seorang laki-laki, sekaligus sebagai suami dari istri, dan ayah dari anak-anaknya, untuk senantiasa membahagiakan mereka.

Sering muncul pertanyaan, ketika seorang laki-laki sudah berumah tangga. Untuk siapakah sesungguhnya harta yang diperolehnya? Apakah hanya untuk dirinya sendiri atau keluarganya, seperti orang tua, saudara-saudaranya, anak dan istrinya? Pertanyaan ini terlontar, disebabkan oleh kurangnya perhatian seorang laki-laki saat mereka sudah berumah tangga. Bahkan seringkali karena persoalan ini sebuah rumah tangga menjadi berantakan.

Ada yang mengatakan, harta yang diperoleh seorang suami adalah untuk dirinya sendiri. Ada pula yang menjelaskan, hartanya adalah untuk keluarganya juga, termasuk anak dan istrinya. Bagaimanakah sesungguhnya pandangan Islam tentang hal ini?
Dalam Alquran surah An-Nisa: 34 dijelaskan, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”

Ayat di atas secara tegas menyatakan, bahwa seorang laki-laki adalah pemimpin, karena punya kemampuan lebih, terutama dalam menafkahkan harta miliknya kepada perempuan.

Dengan demikian, dalam ayat ini dijelaskan, bahwa harta seorang laki-laki bisa dipergunakan untuk keluarganya. Dalam hal ini, untuk anak istrinya, keluarganya (ayah dan ibu), maupun berbagi dengan saudaranya.

Artinya, hartanya bukan untuk kepentingan dirinya pribadi, sebab dia punya kewajiban memberikan nafkah untuk anak-istrinya. Dan ia diperbolehkan bersedekah (memberikan sebagian harta yang diperolehnya) kepada orang tuanya atau saudaranya.

Dan seorang istri, berhak meminta adanya jaminan keamanan dan kesejahteraan dari suaminya. Apalagi jika suaminya karena suatu tugas bermaksud akan bepergian jauh dan meninggalkan anak istrinya dalam waktu yang lama, maka suami berkewajiban untuk memenuhinya, sepanjang kemampuan yang ia miliki.

Waris
“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” (QS. An-Nisa: 11).

Dalam hukum waris Islam pun, bagian anak laki-laki yang nampak lebih banyak (1:2) dari anak perempuan, sesungguhnya secara nilai bisa saja jumlahnya lebih sedikit atau bahkan sama dengan bagian yang diperoleh perempuan.

Sebab, tugas seorang laki-laki adalah sebagai pemimpin dan ia berkewajiban untuk memberikan nafkah bagi keluarganya. Karena itu, andai seorang laki-laki mendapatkan bagian waris dengan jumlah Rp 100 juta, sementara dua orang saudari perempuannya mendapatkan masing-masing Rp 50 juta, maka nilai nominal Rp 100 juta itu, bisa saja akan lebih kecil. Sebab, ia punya tanggung jawab menafkahi istrinya, anak-anaknya, maupun saudara kandungnya.

Dan bisa jadi pula bagian anak perempuan yang nilainya lebih kecil dari bagian laki-laki, akan menjadi lebih banyak. Sebab, harta waris maupun upah yang didapatkan dari usahanya sendiri, adalah miliknya pribadi. Karena dirinya tak punya kewajiban menafkahi anaknya maupun saudara atau lainnya.

Karena itu, jelaslah bahwa, seorang laki-laki harus memiliki kesadaran yang tinggi dalam memberikan nafkah bagi anak-istrinya, keluarganya, atau kedua orang tuanya. Wallahua’lam.
Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Syahruddin El-Fikr