Monthly Archives: March 2012

Hujjatul Islam: Imam Jalaluddin As-Suyuti, Sang Pencinta Ilmu

Hujjatul Islam: Imam Jalaluddin As-Suyuti, Sang Pencinta Ilmu
Senin, 12 Maret 2012 21:31 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Imam Jalaluddin As-Suyuti adalah seorang penulis berkebangsaan Mesir, ulama sekaligus pakar hukum dan guru di bidang teologi Islam.

Nama lengkapnya adalah Abu Al-Fadl Abdurrahman bin Abu Bakar Jalaluddin As- Suyuti. Kata As-Suyuti yang tersemat dalam namanya merujuk pada sebuah kota di pinggriran Mesir bernama Asyut, yang merupakan tempat kelahiran sang ayah dan tempat di mana sang kakek mendirikan sebuah sekolah.

Imam As-Suyuti lahir di bulan Rajab 849 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1445 Masehi di Kairo, Mesir. Ayahnya, Al-Kamaal, merupakan seorang ahli fikih dari mazhab Syafi’i.

Sementara kedua kakeknya dikenal sebagai pemimpin dan pemuka yang amat disegani di daerah tempat tinggalnya, sebagaimana diungkapkan As-Suyuti dalam kitab Husnul Muhadarah.

Ia dibesarkan sebagai seorang yatim piatu setelah ayahnya meninggal saat usianya baru menginjak lima tahun. Sepeninggal ayahnya, ia diasuh oleh Al-Kamaal Ibn Al-Hamam, seorang ahli hukum dari mazhab Hanafi sekaligus orang yang dipercaya oleh almarhum ayahnya untuk mengasuh dan mendidik As-Suyuti.

Ketika menginjak usia delapan tahun, Al-Suyuti berhasil menghafal seluruh isi Alquran. Tak hanya menghafal Alquran, sejumlah kitab-kitab fikih juga berhasil ia hafal, di antaranya Al-Umdah, Minhaaj Al-Fiqh wal Ushul, dan Alfiyyah Ibn Malik.

Pada tahun 864 H, saat usianya 15 tahun, dia mulai secara intens mempelajari berbagai macam pengetahuan agama. Ia mempelajari fikih dan pengetahuan tentang tata bahasa Arab dari beberapa guru yang berbeda. Ia juga belajar hukum waris kepada para ulama besar, salah satu di antaranya adalah Syekh Shihabuddin Al-Shaar Masaahi.

Sementara ilmu fikih, ia pelajari dari Syekh Al-Islam Sirajuddin Al-Balqini. Ia berguru kepada Al-Balqini hingga sang guru tutup usia pada 878 H. Sepeninggal Syekh Al-Balqini, Suyuti melanjutkan belajar ilmu fikih dan tafsir kepada Syekh Sharafuddin Al-Manawi. Gurunya ini adalah seorang cendekiawan yang menulis kitab Faidul Qadir, yang merupakan penjelasan tentang kitab As-Suyuti, Al-Jaami’us Shagir.

Ilmu-ilmu hadits dan bahasa Arab juga ia pelajari di bawah bimbingan Taqi’uddin Al-Shumni Al-Hanafi. Ia juga mempelajari tafsir, usul fikih, dan ma’ani dengan cara hadir dalam pertemuan yang digagas oleh seorang ulama besar, Al-Kafiji. Hal tersebut, ia jalani hampir empat belas tahun lamanya. Dari Al-Kafiji kemudian ia memperoleh ijazah dalam bidang keagamaan. Ia juga rajin mengikuti kelas kajian tafsir dan balaghah yang diselenggarakan oleh Saifuddin Al-Hanafi.
Dari para ulama dan cendekiawan yang menjadi gurunya, Al-Suyuti memperoleh ijazah dalam setiap bidang ilmu yang dipelajarinya.

Karenanya tak mengherankan jika ijazah yang dimilikinya mencapai 150 buah sesuai dengan jumlah gurunya. Mengenai jumlah gurunya ini, telah ia ungkapkan dalam kitabnya, Husnul Muhadarah.

”Adapun guru-guru yang pernah aku ikuti pengajarannya dan memberi saya ijazah dalam bidang keagamaan, banyak sekali jumlahnya. Tetapi aku telah mengumpulkan nama-nama mereka, dan menghitung mereka hingga mencapai nomor 150,” ungkapnya.

Pribadi sederhana

Karena kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, khususnya di bidang agama, As-Suyuti mendapat julukan Ibnul Kutub (anaknya para buku). Orang-orang yang pernah dekat dengan As-Suyuti semasa hidupnya mengenal sosok ulama Mesir yang satu ini sebagai pribadi yang sederhana, baik hati, saleh, takut kepada Allah, puas dengan rezeki yang telah ia terima dari profesinya sebagai guru.

Mengenai sifatnya yang terakhir ini, banyak di antara para penguasa dan orang-orang kaya yang hidup di zamannya yang kerap menawarkan jabatan tinggi dan kehidupan mewah kepadanya. Namun, semua itu ia tolak dengan halus.

Selain menuntut ilmu, As-Suyuti juga menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan melakukan perjalanan ke sejumlah tempat, di antaranya ke Syam, Hijaz, Yaman, India dan Maroko. Namun saat menginjak usia lanjut, ia lebih memilih untuk tinggal dan menetap di tanah kelahirannya, Mesir.

Dan sejak saat itu memilih untuk menarik diri dari khalayak ramai serta lebih banyak berdiam diri di dalam rumahnya dan menyibukkan diri dengan aktivitas menulis dan penelitian. Hal ini dilakukannya hingga ia jatuh sakit selama tujuh hari, yang berakhir dengan kematiannya pada bulan Jumadil Ula tahun 911 H, atau bertepatan dengan tahun 1505 M.

Kehidupan sehari-hari As-Suyuti tidak pernah jauh dari ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya. Karenanya masa hidupnya ia habiskan di bidang pendidikan. Ia sudah menjadi seorang guru di usianya yang terbilang masih belia, yakni 17 tahun. Ia juga tercatat pernah menduduki berbagai jabatan penting yang berkaitan erat dengan bidang pendidikan. Di antaranya ia pernah menjadi guru bahasa Arab pada tahun 866 H/1462 M, berwenang untuk memberikan fatwa di tahun 876 H/1472 M dan mengajar hadits di Universitas Ibn Tulun.
Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya

Serakah (Tamak)

SERAKAH (TAMAK)

=============
Assalamualaikum wr wb
Sahabatku,
Serakah atau tamak dalam terminologi umum adalah: ‘Orang yang selalu merasa kekurangan padahal nyatanya sudah berkelebihan’. Orang serakah biasanya menginginkan agar dirinya memiliki sesuatu paling banyak. Keinginannya itu tidak pernah berhenti. Apa yang sudah dimiliki, sekalipun sudah terlalu banyak, masih selalu dirasa kurang, dan karena itu masih ingin berusaha menambahnya.

Ada 2 istilah yang mirip tetapi sebenarnya maknanya berbeda, yaitu kebutuhan dan keinginan. Orang yang cukup adalah orang yang keinginannya sesuai dengan kebutuhannya, dan orang yang Serakah adalah orang yang keinginannya jauh lebih besar dari kebutuhannya.

Selanjutnya, berbeda dengan kebutuhan yang sangat sedikit itu, manusia masih selalu berusaha memenuhi keinginannya. Keinginan bagi setiap orang tidak terbatas. Sekalipun kekayaannya sudah sedemikian besar, orang masih saja berusaha menambahnya lagi dengan berbagai usaha dari yang halal, subhat sampai yang haram seperti Korupsi dll.

Padahal kalau mau jujur, kebutuhan kita sebagai manusia hakekatnya tidak banyak. Kita makan maksimal 2-3 piring saja, tidak lebih. Kita punya sepasang kaki, cukuplah dengan memiliki sepasang sepatu atau 2 – 3 pasang sepatu. Tapi coba kita cek Rak sepatu kita, ada berapa puluh pasang sepatu kita? Konon mantan Ibu Negara Negeri tetangga sepatunya sampai ribuan pasang hingga dijadikan museum, padahal yang ia pakai maksimal hanya sepasang. Itu-lah barangkali yang disebut Serakah.

Orang cenderung mengumpulkan harta tanpa batas, sudah punya uang yang banyak, ditambah puluhan rumah, Apartemen, Tanah, Sawah, kendaraan dll, tapi tetap saja ia merasa kurang dan ia tambah dan tambah terus. Padahal apakah semua kekayaannya itu akan ia konsumsi sampai habis?. Jawabnya, tentu saja tidak. Bagi mereka yang penting adalah berhasil merasa memiliki sebanyak-banyaknya dan ia bangga karenanya. Itulah yang disebut sebagai orang serakah atau tamak.

Manusia memang cenderung untuk Serakah, sebagaimana sabda Rasul Saw : `Seandainya seorang anak Adam telah memiliki dua lembah harta, maka dia akan mencari lembah yang ketiganya. Dan tak akan merasa puas perutnya, melainkan dengan dimasukkan ke dalam tanah.` (HR. Bukhari Muslim).

Hadits di atas Rasul telah mengingatkan kita agar jangan menjadi orang serakah atau tamak. Terlalu mencintai harta disebut sebagai hubbul mal, dan hal itu adalah termasuk bagian dari akhlak buruk yang seharusnya dijauhi.

Seseorang boleh-boleh saja mencari rizki, tetapi usaha itu tidak selayaknya dilakukan hingga keterlaluan, sampai pantas disebut sebagai orang serakah atau tamak, sehingga berakibat lupa mengingat Allah.

Orang serakah atau tamak membahayakan orang lain. Negeri yang kaya sumber alam sekalipun, seperti negeri kita ini, ternyata rakyatnya masih banyak yang miskin, hanya karena disebabkan oleh banyaknya orang serakah atau tamak itu. Mereka terlalu mencintai harta, dan selalu berusaha memenuhi keinginannya, tanpa peduli dengan sesamanya yang miskin.

Padahal setiap rupiah, Dollar atau apapun yang kita miliki kelak akan kita pertanggungjawabkan di Yaumil Hisab. Semakin kaya seseorang, maka hisabnya akan semakin lama, karena setiap rupiah akan ditanya, dari mana harta tersebut diperoleh dan kemana harta tersebut dia nafkahkan/keluarkan.

Sebagai penutup, dalam Tasawuf dikisahkan, ada serombongan orang2 dalam perjalanan yang sangat jauh di Padang Pasir yang panas. Banyak sekali diantara mereka yang membawa perbekalan yang jauh melebihi kebutuhannya, sehingga ia nampak berjalan dengan berat dan sangat menderita. Hanya ada satu orang yang berjalan dengan enteng dan riang gembira sambil bernyanyi gembira.
Ada yang bertanya: “Mengapa engkau berjalan begiti kuat dan cepat serta begitu santai?, padahal kami2 berjalan demikian berat.”
Dia menjawab sambil tertawa: “Karena barang bawaan saya tidak banyak.”

Hikmah dari kisah sufi tersebut adalah ”Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kebahagiaan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja, sesuai kebutuhan.”
Bagaimana agar Kiatnya agar kita tidak Serakah?

Agar kita tidak serakah, Agama memberikan kiat, antara lain yaitu jangan biarkan diri kita diperbudak nafsu, karena nafsu terhadap dunia akan mendorong kita berbuat maksiat kepada Allah. Tentu saja, kita tidak dilarang untuk memiliki harta yang banyak. Yang penting, harta tersebut diperoleh secara halal dan kita nafkahkan secukupnya untuk kita dan keluarga secara tidak berlebihan, selebihnya kita nafkahkan di jalan Allah dan dimanfaatkan untuk sebanyak-banyak orang.

Juga sebaiknya kita memiliki sifat zuhud, wara` (hati-hati), qanaah (merasa puas atas apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita), pandai mengatur waktu untuk kepentingan dunia dan akhirat, dan pandai mensyukuri nikmat yang ada. Selain itu, kita juga harus meluruskan seluruh niat dalam berusaha, yaitu semata-mata dalam rangka mengabdi kepada Allah guna mendapatkan ridhaNya. Wallahu a`lam bishshawwab.

Semoga Allah Swt menjadikan kita dan anak2 keturunan kita orang yang senantiasa merasa cukup dan dijauhkan dari sifat Serakah dan Tamak yang merupakan sifat dasar Setan. Amiin Ya Rabb…Qobul……

Kajian Saturday Morning 31/03/2012 @Masjid Ar-Rahman SGP

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saudaraku yg beriman,

Aqidah islamiyah adalah pondasi utama bagi setiap mu’min.
Dulu betapa berat para sahabat Nabi dalam mempertahankan Aqidah Islam, hingga ia rela disiksa oleh para musuh Alloh kaum kafir.
Namun kini betapa mudah manusia lari dari Aqidah Islamiyah.
Ikuti ulasan lengkapnya pada Kajian Saturday Morning bakda Shubuh pada :
Hari, tanggal : Sabtu, 31 Maret 2012
Waktu. : pkl 05:00 – 06:30
Tempat : Masjid Ar-Rahman SGP
Bersama. : Ust. Agus Tanaya, STHI – seorang Dai, Dosen khusus bidang Tafsir dan Hadist.

Ajak serta keluarga kita sambil kita semarakkan shalat Shubuh Berjamaah.

Ayo Agendakan untuk hadir,
Insya Alloh teh ijo hangatnya senantiasa menemani kajian kita so Be there yaa !
Wasalamu’alaikum
Beja

Hidupku setengah hari saja

Semoga menggugah iman dan menambah ketaqwaan kita kepada Allah SWT

Siti bocah tangguh: jualan bakso dengan upah 2000 per hari

http://sosok.kompasiana.com/2012/03/…p-2000-sehari/

Sore kemarin – Selasa, 06 Maret 2012 – saya pulang kantor rada “tenggo”, jadi sampai di rumah jam 17.30-an, saya sempat nonton acara “Orang-Orang Pinggiran” di Trans7. Dada saya sesak menyaksikannya, air mata saya meleleh tanpa bisa ditahan, tak mampu berkata-kata. Siti, seorang bocah yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia 2 tahun. Kini Siti berumur 7 tahun. Sehari-hari sepulang sekolah Siti masih harus berkeliling kampung menjajakan bakso. Karena ia masih anak-anak, tentu belum bisa mendorong rombong bakso. Jadi bakso dan kuahnya dimasukkan dalam termos nasi yang sebenarnya terlalu besar untuk anak seusianya. Termos seukuran itu berisi kuah tentu sangat berat.

Tangan kanan menenteng termos, tangan kiri menenteng ember plastik hitam berisi mangkok-mangkok, sendok kuah, dan peralatan lain. Dengan terseok-seok menenteng beban seberat itu, Siti harus berjalan keluar masuk kampung, terkadang jalanannya menanjak naik. Kalau ada pembeli, Siti akan meracik baksonya di mangkok yang diletakkan di lantai. Maklum ia tak punya meja. Terkadang jika ada anak yang membeli baksonya, Siti ingin bisa ikut mencicipi. Tapi ia terpaksa hanya menelan ludah, menahan keinginan itu. Setelah 4 jam berkeliling, ia mendapat upah 2000 perak saja! Kalau baksonya tak habis, upahnya hanya Rp. 1000,- saja. Lembaran seribuan lusuh berkali-kali digulung-gulungnya.

Sampai di rumah, Siti tak mendapati siapapun. Ibunya jadi buruh mencangkul lumpur di sawah milik orang lain. Tak setiap hari ia mendapat upah uang tunai. Terkadang ia hanya dijanjikan jika kelak panenan berhasil ia akan mendapatkan bagi hasilnya. Setiap hari kaki Ibunda Siti berlumur lumpur sampai setinggi paha. Ia hanya bisa berharap kelak panenan benar-benar berhasil agar bisa mendapat bayaran.

Hari itu Siti ingin bisa makan kangkung. Ia pergi ke rumah tetangganya, mengetuk pintu dan meminta ijin agar boleh mengambil kangkung. Meski sebenarnya Siti bisa saja langsung memetiknya, tapi ia selalu ingat pesan Ibunya untuk selalu minta ijin dulu pada pemiliknya. Setelah diijinkan, Siti langsung berkubang di empang untuk memetik kangkung, sebatas kebutuhannya bersama Ibunya. Petang hari Ibunya pulang. Siti menyerahkan 2000 perak yang didapatnya. Ia bangga bisa membantu Ibunya. Lalu Ibunya memasak kangkung hanya dengan garam. Berdua mereka makan di atas piring seng tua, sepiring nasi tak penuh sepiring, dimakan berdua hanya dengan kangkung dan garam. Bahkan ikan asin pun tak terbeli, kata Ibunda Siti.

Bayangkan, anak sekecil itu, pulang sekolah menenteng beban berat keliling kampung, tiba di rumah tak ada makanan. Kondisi rumahnya pun hanya sepetak ruangan berdinding kayu lapuk, atapnya bocor sana-sini. Sama sekali tak layak disebut rumah. Dengan kondisi kelelahan, dia kesepian sendiri menunggu Ibunya pulang hingga petang hari.

Sering Siti mengatakan dirinya kangen ayahnya. Ketika anak-anak lain di kampung mendapat kiriman uang dari ayah mereka yang bekerja di kota, Siti suka bertanya kapan ia dapat kiriman. Tapi kini Siti sudah paham bahwa ayahnya sudah wafat. Ia sering mengajak Ibunya ke makam ayahnya, berdoa disana. Makam ayahnya tak bernisan, tak ada uang pembeli nisan. Hanya sebatang kelapa penanda itu makam ayah Siti. Dengan rajin Siti menyapu sampah yang nyaris menutupi makam ayahnya. Disanalah Siti bersama Ibunya sering menangis sembari memanjatkan doa. Dalam doanya Siti selalu memohon agar dberi kesehatan supaya bisa tetap sekolah dan mengaji. Keinginan Siti sederhana saja : bisa beli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah sebab miliknya sudah rusak.

Kepikiran dengan kondisi Siti, dini hari terbangun dari tidur saya buka internet dan search situs Trans7 khususnya acara Orang-Orang Pinggiran. Akhirnya saya dapatkan alamat Siti di Kampung Cipendeuy, Desa Cibereum, Cilangkahan, Banten dan nomor contact person Pak Tono 0858 1378 8136.

Usai sholat Subuh saya hubungi Pak Tono, meski agak sulit bisa tersambung. Beliau tinggal sekitar 50 km jauhnya dari kampung Siti. Pak Tono-lah yang menghubungi Trans7 agar mengangkat kisah hidup Siti di acara OOP. Menurut keterangan Pak Tono, keluarga itu memang sangat miskin, Ibunda Siti tak punya KTP. Pantas saja dia tak terjangkau bantuan resmi Pemerintah yang selalu mengedepankan persyaratan legalitas formal ketimbang fakta kemiskinan itu sendiri. Pak Tono bersedia menjemput saya di Malimping, lalu bersama-sama menuju rumah Siti, jika kita mau memberikan bantuan. Pak Tono berpesan jangan bawa mobil sedan sebab tak bakal bisa masuk dengan medan jalan yang berat.

Saya pun lalu menghubungi Rumah Zakat kota Cilegon. Saya meminta pihak Rumah Zakat sebagai aksi “tanggap darurat” agar bisa menyalurkan kornet Super Qurban agar Siti dan Ibunya bisa makan daging, setidaknya menyelamatkan mereka dari ancaman gizi buruk. Dari obrolan saya dengan Pengurus Rumah Zakat, saya sampaikan keinginan saya untuk memberi Siti dan Ibunya “kail”. Memberi “ikan” untuk tahap awal boleh-boleh saja, tapi memberdayakan Ibunda Siti agar bisa mandiri secara ekonomi tentunya akan lebih bermanfaat untuk jangka panjang. Saya berpikir alangkah baiknya memberi modal pada Ibunda Siti untuk berjualan makanan dan buka warung bakso, agar kedua ibu dan anak itu tidak terpisah seharian. Siti juga tak perlu berlelah-lelah seharian, dia bisa bantu Ibunya berjualan sambil belajar.

(alangkah lebih baik kalau Siti bisa melayani pembeli di warung bersama Ibunya, jadi dia tak perlu kelelahan seharian)

Mengingat untuk memberi “kail” tentu butuh dana tak sedikit, pagi ini saya menulis kisah Siti dan memforward ke grup-grup BBM yang ada di kontak BB saya. Juga melalui Facebook. Alhamdulillah sudah ada beberapa respon positif dari beberapa teman saya. Bahkan ada yang sudah tak sabar ingin segera diajak ke Malimping untuk menemui Siti dan memeluknya. Bukan hanya bantuan berupa uang yang saya kumpulkan, tapi jika ada teman-teman yang punya putri berusia 7-8 tahun, biasanya bajunya cepat sesak meski masih bagus, alangkah bermanfaat kalau diberikan pada Siti.

Adapula teman yang menawarkan jadi orang tua asuh Siti dan mengajak Siti dan Ibunya tinggal di rumahnya. Semua itu akan saya sampaikan kepada Pak Tono dan Ibunda Siti kalau saya bertemu nanti. Saya menulis artikel ini bukan ingin menjadikan Siti seperti Darsem, TKW yang jadi milyarder mendadak dan kemudian bermewah-mewah dengan uang sumbangan donatur pemirsa TV sehingga pemirsa akhirnya mensomasi Darsem. Jika permasalahan Siti telah teratasi kelak, uang yang terkumpul akan saya minta kepada Rumah Zakat untuk disalurkan kepada Siti-Siti lain yang saya yakin jumlahnya ada beberapa di sekitar kampung Siti.

Mengetuk hati penguasa formal, mungkin sudah tak banyak membantu. Saya menulis shout kepada Ibu Atut sebagai “Ratu” penguasa Banten ketika kejadian jembatan ala Indiana Jones terekspose, tapi toh tak ada respon. Di media massa juga tak ada tanggapan dari Gubernur Banten meski kisah itu sudah masuk pemberitaan media massa internasional. Tapi dengan melalui grup BBM, Facebook dan Kompasiana, saya yakin masih ada orang-rang yang terketuk hatinya untuk berbagi dan menolong. Berikut saya tampilkan foto-foto Siti yang saya ambil dari FB Orang-Orang Pinggiran. Semoga menyentuh hati nurani kita semua.

(termos penuh berisi kuah bakso tentu tidak ringan untuk ukuran anak seusia Siti)

TAMBAHAN :

Setelah tulisan ini tayang 1,5 jam, melihat respon pembaca dan ada yang ingin langsung memberikan bantuan, saya dengan senang hati sekaligus berterimakasih atas respon teman-teman.

Jika ada yang ingin langsung bertemu Siti, anda bisa menghubungi Pak Tono yang akan mengantar ke lokasi kampung Siti. No HP sudah saya tulis di atas, alamat lengkap ini : Kampung Cibobos 02/05, Desa Karangkamulyan, Kec. Cihara, Kabupaten Lebak, Banten Selatan. Kode pos 42391.

Semua kiriman paket, wesel, dll melalui Pak Tono, sebab Siti tidak bisa mengambil karena Ibunya tak punya KTP dan identitas diri lainnya sebagai bukti persyaratan pengambilan.

Demikian info tambahannya.

Sumber foto :

http://www.facebook.com/pages/ORANG-…196102?sk=wall

Sumber:

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=13506067