Monthly Archives: February 2012

Interaksi dengan Non Muslim

Selain berbuat baik dan adil dengan non muslim, berikut hal-hal lain yang perlu diperhatikan seorang muslim dalam berinteraksi dengan non muslim.

Pertama: Tidak boleh bagi seorang muslim pun menipu orang kafir (selain kafir harbi) ketika melakukan transaksi jual beli, mengambil harta mereka tanpa jalan yang benar, dan wajib selalu memegang amanat di hadapan mereka. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

Ingatlah! Barangsiapa berlaku zholim terhadap kafir Muahid, mengurangi haknya, membebani mereka beban (jizyah) di luar kemampuannya atau mengambil harta mereka tanpa keridhoan mereka, maka akulah nantinya yang akan sebagai hujah mematahkan orang semacam itu.[ HR. Abu Daud no. 3052]

Kedua: Diharamkan seorang muslim menyakiti orang kafir (selain kafir harbi) dengan perkataan dan dilarang berdusta di hadapan mereka. Jadi seorang muslim dituntut untuk bertutur kata dan berakhlaq yang mulia dengan non muslim selama tidak menampakkan rasa cinta pada mereka. Allah Taala berfirman,

Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. (QS. Al Baqarah: 83). Berkata yang baik di sini umum kepada siapa saja.

Ketiga: Berbuat baik kepada tetangga yang kafir (selain kafir harbi) dan tidak mengganggu mereka. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Jibril terus menerus memberi wasiat kepadaku mengenai tetangga sampai-sampai aku kira tetangga tersebut akan mendapat warisan.[
HR. Bukhari no. 6014 dan Muslim no. 2625]

Keempat: Wajib membalas salam apabila diberi salam oleh orang kafir. Namun balasannya adalah wa alaikum. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Jika salah seorang dari Ahlul Kitab mengucapkan salam pada kalian, maka balaslah: Wa alaikum.[
HR. Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163, dari Anas bin Malik]

Akan tetapi, kita dilarang memulai mengucapkan salam lebih dulu pada mereka. Alasannya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashrani dalam ucapan salam.[ HR. Tirmidzi no. 1602 dan Ahmad (2/266)]

Semoga Allah Xlalu menunjuki kita pada jalan yang lurus dan menjaga kita dari hal-hal yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam berinteraksi dengan non muslim. Hanya Allah yang beri taufik.

Tetangga, Menentukan Surga dan Neraka Kita

Hidayatullah.com—Alkisah, Isabella Purves (85 tahun), tinggal di wilayah permukiman mewah distrik Edinburgh, New Town, Inggris. Jenazahnya ditemukan polisi setelah terbaring selama lima tahun. Polisi menemukan jenazah ini, setelah seorang tetangga melaporkan kepada dewan kota mengenai tumpahan air yang menembus langit-langit di flat-nya.

Isabella telah ditemukan membusuk bersama tumpukan surat dan koran setinggi 1 meter.

Menurut tetangganya, Purves mulai tidak tampak lagi di lingkungan sekitarnya pada tahun 2004. Kasus sedih ini sekaligus merupakan gambaran mengguncangkan dari terkikisnya semangat kepedulian sosial dalam kehidupan masyarakat modern. Tak hanya yang Inggris, bahkan di sekitar kita. Kisah serupa terjadi di Negeri kita. Sekitar tahun 2005, masyarakat digegerkan dengan kisah Supriyono (38), yang membawa mayat anaknya dengan gerobak sampah karena tak mampu menyewa ambulan.

Awalnya, ia meenumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta – Bogor dengan menggendong mayat anaknya, Khaerunisa (3 thn) untuk dimakamkan di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Namun di tengah jalan, ia justru dipaksa turun dari kereta dan dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Ketidakmampuan membawa Khaerunisa berobat ke Puskesmas menyebabkan putrinya menghembuskan nafas terakhir. Beginilah kisah para korban kehidupan modern yang acuh tak acuh pada sesama.

Islam dan Tetangga

Islam merupakan satu-satunya agama yang mengajarkan ummatnya agar selalu menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta di satu sisi dan sesama mahluk di sisi lain. Seseorang dikatakan tidak sempurna imannya jika hanya mempunyai hubungan baik dengan Allah tapi buruk dengan sesamanya. Demikian pula sebaliknya.

Salah satu bentuk ajaran Islam yang mulia itu yaitu kewajiban menjaga hubungan baik dengan tetangga. Dalam Islam, tetangga memiliki kedudukan yang sangat agung. Rasulullah Saw adalah manusia yang sangat memuliakan para tetangganya. Dalam kehidupan beliau, tetangga ditempatkan pada posisi yang sangat mulia. Dalam sebuah hadits beliau brsabda: “Malaikat Jibril alaihissalam senantiasa mewasiatkan agar aku berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku mengira ia (Jibril) akan memberikan hak waris (bagi mereka).” (HR: Al-Bukhari dan Muslim)

Oleh sebab itu, sebagai pengikutnya, kita hendaklah senantiasa berlaku baik kepada para tetangga. Rasulullah Saw bersabda, yang artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, hendaklah ia berlaku baik kepada tetangganya.” (HR: Muslim)

Seorang Muslim diajarkan oleh syariat Islam yang sempurna ini untuk meyakini dan mengamalkan bahwa tetangga mempunyai hak-hak atas dirinya. Juga harus menjalankan etika-etika terhadap tetangga dengan sempurna. Ini didasarkan pada Firman Allah Ta’ala: ”Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat den tetangga yang jauh.” (An Nisa’:36)

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa berbuat baik kepada tetangga merupakan perintah agama yang wajib kita jalankan. Ayat ini juga tidak membedakan apakah tetangga itu muslim atau tidak. Bahkan haram hukumnya bagi seorang muslim memutus hubungan dengan tetangga kafirnya, selama mereka tidak mengganggu. Tatkala mereka sakit, dianjurkan menjengungknya. Adapun tatkala mati maka tidak boleh berbela sungkawa. berdasarkan hadits Ali r.a. tatkala bapaknya, Abu Thalib- meninggal dunia.

Rasulullah Saw bersabda kepadanya : “Pergi, dan timbunlah ia”. Maka Ali tidak berbela sungakawa. (Ahmad (807), Abu Dawud (3214) dan Nasa’i (1/110). Juga tidak dibolehkan mendatangi hari-hari raya mereka dengan mengucapkan selamat hari raya. Karena dalam perbuatan tersebut tersirat pengakuan atas perubahan-perubahan yang terjadi pada agama mereka. Dan tidak disangsikan lagi bahwa hari-hari raya mereka adalah bagian dari keyakinan agama yang haram bai kita mengikutinya. Ini juga sebagai bukti bahwa kita sebenarnya tidak setuju dengan keyakinan mereka, tapi tanpa menyakiti mereka.

Adapun terhadap tetangga sesama muslim, maka bukan hak sebagai tetangga saja yang harus kita penuhi, tetapi juga sebagai sesama saudara muslim. Seorang mukmin harus bersikap tawadhu’ terhadap sesama kaum mukminin dan merendahkan diri kepada mereka.

Adab Terhadap Tetangga

1. Tidak menyakitinya dengan ucapan atau perbuatan, karena sabda-sabda Rasulullah Saw berikut: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan menyakiti tetangganya.” (Mutafaq Alaih). Kemudian sabda Rasulullah Saw: “Demi Allah, tidak beriman. Ditanyakan kepada Rasulullah Saw, Siapakah orang yang tidak beriman, wahai Rasulullah? Beliau bersabda, yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (Mutafaq Alaih).

Sabda Rasulullah Saw: “Wanita tersebut masuk neraka”. Sabda di atas ditujukan Rasulullah Saw kepada wanita yang konon berpuasa di siang hari dan qiyamul lail di malam hari, namun menyakiti tetangganya.

2. Berbuat baik kepadanya dengan menolongnya jika ia meminta pertolongan, membantunya jika ia meminta bantuan, menjenguknya jika ia sakit, mengucapkan selamat kepadanya jika ia bahagia, menghiburnya jika ia mendapat musibah, membantunya jika ia membutuhkan dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Ini semua perbuatan baik yang diperintahkan dalam firman Allah Ta’ala, tetangga dekat dan tetangga yang jauh. (An Nisa:36). Rasulullah saw bersabda: “Barangsipa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)

3. Bersikap dermawan dengan memberikan kebaikan kepadanya, karena sabda-sabda Rasulullah Saw berikut: “Hai wanita-wanita Muslimah, janganlah seorang tetangga meremehkan tetangganya yang lain, kendati hanya dengan ujung kuku kambing.” (Diriwayatkan Al Bukhari). Sabda Rasulullah Saw kepada Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu: “Hai Abu Dzar, jika engkau memasak kuah maka perbanyaklah airnya, kemudia berikan kepada tetanggamu.” (Diriwayatkan Al Bukhari).

Aisyah ra.a bertanya kepada Rasulullah Saw, “Aku mempunyai dua tetangga, maka yang mana yang berhak akau beri hadiah? Rasulullah Saw bersabda: “Kepada orang yang pintu rumahnya lebih dekat kepadamu.” (Mutafaq Alaih)

4. Menghormati dan menghargainya dengan tidak melarangnya meletakkan kayu di temboknya, tidak menjual atau menyewakan apa saja yang menyatu dengan temboknya, dan tidak mendekat ke temboknya hingga ia bermusyawarah dengannya berdasarkan sabda-sabda Rasulullah berikut: “Salah seorang dari kalian jangan sekali-kali melarang tetangganya meletakkan kayu di dinding rumahnya.” (Mutafaq Alaih). Kemudian sabda beliau : “Barangsiapa mempunyai kebun bersama tetangga, atau mitra, maka ia tidak boleh menjualnya, hingga ia bermusyawarah dengannya.” (Mutafaq Alaih)

Itulah beberapa adab bertetangga yang diajarkan Islam. Sungguh sangat berbeda dengan ajaran peradaban modern yang tegak di atas materi, sehingga tidak mengajak kepada makna yang mulia, dan tidak menyukai akhlak yang utama. Bahkan menjadikan sebagian manusia hanya sekedar alat yang berputar pada poros kehidupan yang tuli tanpa mengenal perasaan. Dan menjadikan peran yang digariskan baginya, kosong dari perasaan-perasaan yang mulia dan makna-makna kemanusiaan yang tinggi. Karena itu sungguh sangat beruntung orang yang masih memagang ajaran Islam, terkait dengan masalah ini, dengan baik meski hidup dalam sebuah masyarakat yang modern. [bahrul ulum/sahid/cha/hidayatullah.com]

Kesederhanaan Si Fulan

Hidup sederhana, tidak selamanya identik dengan kemiskinan, tapi juga terkait erat dengan keinginan dan keimanan. Paling tidak, itulah kesimpulan yang kuambil dari obrolanku dengan si Fulan.

Fulan berasal dari keluarga yang kaya. Aku pernah mengibaratkan bahwa jika aku bekerja untuk mencari makan, maka Fulan bekerja hanya untuk mengisi waktu atau sekedar mencari tambahan uang jajan. Pendidikan yang tinggi dan jabatan di perusahaan yang lumayan, tidak membuatnya tinggi hati. Sebaliknya, Fulan selalu terlihat sederhana. Salah satunya dalam hal berpakaian. Fulan selalu memakai seragam kerja meskipun sebagian besar rekan kerjanya banyak yang tak lagi memakainya.
Perusahaan tempatnya bekerja memang memberikan seragam kerja kepada seluruh karyawannya. Kecuali top management, seluruh karyawan mendapatkan seragam yang sama, baik warna maupun modelnya.

Belakangan, beberapa karyawan mulai banyak yang bekerja tanpa menggunakan seragam. Sebagian besar mereka adalah para staf, rekan-rekan Fulan. Macam-macam alasan, warna dan model yang dianggap kurang layak karena disamakan dengan semua karyawan atau kondisi seragam yang mulai lusuh karena sudah dua tahun lebih tak diganti. Seakan menyadari belum bisa memberikan seragam baru, pihak pemilik perusahan tidak menegur stafnya yang tidak memakai seragam.

Kesederhanan Fulan menarik perhatianku. Kucoba untuk mengetahui alasannya bertahan dengan seragam yang dikenakannya. Yang jelas bukan kaena Fulan tak memiliki baju untuk dipakai kerja. Ku tahu pasti, koleksi bajunya di rumah memenuhi lemari. Model dan warnanya bagus-bagus, hampir semuanya bermerk. Sebelum mendapat seragam, Fulan selalu menjaga penampilannya. Dia selalu datang ke tempat kerja dengan pakaian rapi dan bersahaja.

Jawaban Fulan sungguh membuatku terkesan. Mematuhi aturan yang ditetapkan perusahaan, itu jawaban pertamanya. Sebagai staf, semestinya dia bisa memberikan contoh disiplin kepada karyawan lainnya. Lebih nyaman, itu jawaban keduanya. Dalam tugasnya, terkadang Fulan harus menemui operator di lapangan. Dengan memakai seragam, Fulan merasa leluasa berbaur dengan mereka. Sama warna sama rasa , itu alasan ketiganya. Bisa saja Fulan berganti pakaian setiap hari, toh koleksi pakaiannya memungkinkan untuk itu. Tapi Fulan tak ingin terlihat mencolok dengan pakaiannya. Fulan tak ingin mencitpakan kesenjangan antara dirinya sebagai staf dengan karyawan lainnya.

Hanya itu jawaban Fulan? Tidak, itu intinya. Panjang lebar Fulan menjawab setiap pertanyaan yang kuajukan. Dan semuanya kusimpulkan bahwa gaya hidupnya yang sederhana bukan berkaitan dengan kemiskinan, tapi sebuah keinginan yang dilandasi oleh keimanan. Memakai pakaian bagus tidak selamanya bisa dikatakan riya atau takabur, tapi bisa jadi sebagai wujud rasa syukur. Tapi tentunya dengan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keperluannya. Bagi Fulan, tak perlu ia memakai pakaian-pakaian bagusnya untuk bekerja. Toh sudah ada seragam yang diberikan. Ia khawatir akan membuat karyawan lainnya merasa rendah diri. Ia takut menjadi takabur dan ingin dipuji orang karena penampilannya.

Tak ada alasan bagi Fulan untuk merasa malu, apalagi jika alasannya hanya karena seragam kerjanya sama model dan warnanya dengan operator dan tukang sapu. Di mata fulan, semuanya sama, apapun tugas dan jabatannya. Tak ada alasan untuk merasa lebih tinggi dari karyawan yang lain. Tugas dan tanggung jawab memang berbeda, tapi di perusahaan ini sama-sama sebagai pekerja. Sama-sama disuruh dan dibayar oleh orang lain.

Saat kutanya pendapatnya mengenai karyawan yang tidak mau menggunakan seragam, Fulan hanya tersenyum saja. Fulan tak memberikan tanggapan apa-apa. Sebagai sahabat, aku paham dengan kebiasaan Fulan. Dia selalu berhati-hati memberikan komentar, terutama jika menyangkut pendapat dan alasan orang lain. Baginya lebih baik diam, biarlah yang bersangkutan yang memberikan jawaban.

**

Pelajaran berharga tentang hidup sederhana kudapat dari Fulan. Kesederhanaan yang kujalani ternyata berbeda dengan kesederhanaan Fulan. Bagiku hidup sederhana adalah sebuah keharusan untuk tetap bisa bertahan. Apa yang bisa kuandalkan dari pekerjaanku yang hanya buruh biasa. Bagi Fulan, hidup sederhana adalah keinginan. Keinginan yang didasari oleh rasa keimanan. Dengan hartanya, dengan ketinggian ilmunya, dengan jabatannya, Fulan bisa saja memilih gaya hidup mewah. Dia bisa, dia mampu, dia pantas untuk itu. Dia orang berada, dia punya semuanya. Tapi bukan itu yang ada dalam pikiran Fulan. Apa yang dimilikinya adalah anugerah sekaligus amanah. Rasa syukur terhadap nikmat yang Allah berikan tidaklah harus dinampakan dalam gaya hidup sehari-harinya. Jauh lebih penting dan semestinya rasa syukur itu diwujudkan dengan berbagi kepada sesama. Atau paling tidak, jangan melakukan hal-hal yang bisa melukai perasaan orang lain. Jangan ciptakan dan jangan nampakan kesenjangan sosial yang akan menimbulkan kecemburuan pada orang lain.

Terima kasih Fulan, pelajaran berharga kudapat darimu. Sungguh kau telah menyadarkanku bahwa hidup sederhana bukanlah sebuah keterpaksaan, tapi juga bukti nyata keimanan.

abisabila.multiply.com

Meneladani Akhlak Rasulullah

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ciri utama Rasulullah saw yang paling menonjol adalah akhlak beliau yang sangat mulia. Kemuliaan akhlak beliau diakui bukan hanya oleh kawan, tapi juga oleh lawan. Tak terhitung berapa banyak tokoh-tokoh kafir yang semula memusuhi beliau, berbalik menjadi pendukungnya yang paling tangguh.

Bahkan kemuliaan akhlak beliau itulah, bukan pedang sebagaimana yang dikatakan oleh musuh-musuh Islam, menjadi rahasia besar di balik keberhasilan dakwah Islam. Allah Tuhan semesta alam memuji beliau dengan firman-Nya, “ Sesungguhnya engkau Muhammad benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS.Al-Qalam (68):4) Pujian siapakah yang lebih besar dan lebih jujur daripada pujian Allah, SWT?

“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari dirimu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan kebaikan untukmu, pemaaf dan penyayang kepada orang-orang mukmin.” ( QS.Al-Taubah (9):128 )
Surat al-Taubah ayat 9 ini berbicara tentang beberapa sifat Nabi yang patut diteladani oleh setiap umatnya. Sifat yang pertama, beliau ikut menderita bersama penderitaan umat, berat terasa olehnya penderitaanmu. Terhadap umatnya, Rasulullah ibarat seorang ibu yang sedang mengasuh anak-anaknya. Hati beliau akan sangat sedih sekali melihat umatnya menderita, sakit atau tertimpa musibah. Beliau bahkan lebih menderita daripada seorang ibu yang melihat anaknya menderita penyakit.

Sikap empati ini juga beliau anjurkan kepada setiap umatnya. Beliau bersabda, “Barang siapa yang tidak bersedih dengan musibah yang menimpa kaum muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” Beliau juga bersabda, “sesama muslim harus seperti sebuah tubuh, jika satu anggota menderita sakit, seluruh badan ikut merasakannya.”

Sifat yang kedua, sangat mengharap kebaikan sebanyak-banyaknya untuk umat muslim, sangat menginginkan kebaikan untukmu. Artinya, Rasulullah ikut bergembira dengan kegembiraan yang dirasakan oleh salah seorang umatnya. Tak ada rasa iri ataupun keinginan agar nikmat yang dimiliki seseorang hilang dari dirinya. Meski terdengar cukup sederhana, sifat ini hanya bisa terdapat pada diri orang yang hatinya bersih dari dengki, iri dan sifat-sifat tercela lainnya. Jika para pemimpin rakyat memiliki sifat ini, tentu rakyat akan hidup dalam kemakmuran.

Sifat berikutnya adalah sangat pemaaf dan penuh kasih sayang kepada orang-orang yang beriman. Dalam ayat yang lain, Allah mengilustrasikan masayarakat muslim di masa Nabi dengan ucapan, “sangat tegas kepada orang-orang kafir, saling kasih sayang sesama mereka.” Dan Rasulullah adalah orang pertama yang mencontohkan hal itu kepada mereka. Sebagai umatnya, kita diharuskan untuk meneladani sifat-sifat dan akhlak mulia ini semaksimal mungkin. Rasulullah saw pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat dengan aku pada hari akhir kelak adalah yang termulia akhlaknya.” Subhanallah.

Naskhah : Lubna Amir, MA

Meniti Jalan Meraih Kecintaan Allah

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Bagaimana meniti jalan meraih kecintaan Allah?

Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr (Pengajar di Universitas Madinah, Professor termuda dalam bidang Aqidah) menyampaikan bahwa paling tidak ada 10 hal yang bisa kita lakukan dalam meniti jalan meraih kecintaan Allah:

1. Memberikan perhatian yg serius terhadap Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya.

"Apakah mereka tidak mentadabburi Al Quran? Sekiranya Al Quran itu tidak datang dari sisi Allah, maka tentulah mereka temukan banyak pertentangan di dalamnya." (QS. An-Nisa [4]:82)

2. Mengenal asma2 Allah yang husna (baik) dan sifatnya yang tinggi/mulia.

Dan Allah memiliki nama2 yang indah, maka berdoalah dengan nama-nama itu.

Orang yang paling mengenal Allah, maka dialah yang paling besar rasa takutnya pada Allah, dan paling jauh dr perbuatan maksiat.

"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah itu hanyalah orang-orang yang berilmu." (QS. Fathiir [35]:28)

3. Senantiasa memohon pertolongan kepada Allah dan banyak berdoa padaNya, dan bersungguh2 meminta pada Nya.

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran" (QS. Al-Baqarah [2]:186)

Dan doa yg diajarkan:

"Ya Allah aku memohon padaMu, kecintaan padaMu, kecintaan pada orang yang mencintaiMu, dan kecintaan pada amal yang mendekatkan diri pada kecintaanMu."

"Ya Allah sesungguhnya aku menzhalimi diriku dengan kezhaliman yg besar, maka ampuni aku, sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

4. Memberikan kesungguhan dalam melaksanakan amalan-amalan wajib dari Allah. Setelah itu berusaha menundukkan hawa nafsu dan menghiasi dengan amalan2 sunnah.

Allah SWT berfirman, “Tidak seorangpun hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling aku cintai, melainkan dengan apa yang telah aku wajibkan kepadanya. Hambaku adalah orang yang selalu mengerjakan ibadah-ibadah nawafil (amalan-amalan sunnah) sehingga aku mencintainya. Ketika aku telah mencintainya, maka akulah yang akan menjadi telinga yang dia gunakan untuk mendengar, mata yang dia gunakan untuk melihat, tangan yang dia gunakan untuk memukul, kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, pasti aku berikan, dan jika dia butuh perlindungan-Ku, pasti aku lindungi.” (Hadits Qudsi, HR. Al-Bukhori)

5. Bersungguh-sungguh menundukkan hawa nafsu untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah. Karena semua dosa dan maksiat akan menjadikan tertutupnya hati manusia, bahkan menjerumuskan ke dalam jurang kebinasaan.

6. Selalu mendahulukan apa-apa yang dicintai Allah daripada yang kita cintai. Dan menjadikan Allah dan rasulNya lebih dicintai dari yang lain.

7. Merenungkan nikmat Allah yang dianugerahkan pada manusia. Allah telah memberikan apa-apa yang kalian minta. Jika kita hitung maka tidak akan terhitung banyak nikmatNya.

8. Bergaul dengan orang-orang shalih

Bergaul dengan orang-orang shalih mereka yang bersungguh-sungguh dalam melakukan amalan yang dicintai Allah. Untuk mengambil manfaat dari nasehat mereka, amalan mereka, meneladani akhlak mereka.

"Seseorang itu agamanya sesuai dengan agama orang terdekatnya. Maka lihatlah siapa orang terdekatmu." (HR. Abu Daud)

9. Berusaha sungguh2 untuk beribadah di sepertiga malam terakhir.

“Dari Abu Hurairah r.a, dari Rasulullah saw, ”Jika telah lewat tengah malam atau sepertiga malam yang akhir, Allah Yang Maha Mulia dan Agung turun kelangit yang paling rendah (langit dunia), lalu berkata: Adakah orang yang meminta kepada-Ku saat ini, pasti akan aku beri, adakah orang yang memohon ampun, pasti aku ampuni, adakah orang yang bertaubat, pasti aku berikan taubat-Ku, adakah orang yang memerlukan-Ku, pasti akan aku penuhi.” Dan itu terjadi setiap malam hingga terbit fajar”. (HR. Bukhari).

10. Terus menerus berdzikir pada Allah subhanahu wata’ala.

"Orang2 yang beriman yg hati mereka merasakan ketenangan dan kedamaian ketika mengingat Allah. Sesungguhnya dengan berdzikir maka hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra’du [13]:28)

Demikian 10 sebab untuk meraih kecintaan Allah subhanahu wata’ala.

Bukan berarti hanya ada 10, masih ada sebab-sebab yang lain. Hanya saja semoga 10 hal ini menjadi pengingat bagi kita.

Meniti Jalan Meraih Kecintaan Allah, disampaikan di Masjid Istiqlal Ahad, 19 Februari 2012 ,

Oleh: Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr.

[tag meraih cinta allah,al quran,dzikir]