Monthly Archives: October 2011

Meraih Limpahan Pahala di Awal Dzulhijah

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

 

Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.

[HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.]

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa amalan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahwa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, itu menunjukkan bahwa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya [Latho-if Al Ma’arif, hal. 456]

.::  3 Hari Menuju Dzulhijah ::.

Advertisements

Antara Larangan dan Keinginan

Assalamu’alaikum wr. wb.

Sahabat seiman…,
Semoga Allah Swt menguatkan azam kita untuk mentaati-Nya-
Tataplah diri ini! Betapa ia sangat merindukan sesuatu yang belum ia dapatkan, mengapa ia sangat cenderung terhadap apa yang dilarang..? Semakin kuat keinginan yang belum di dapat semakin dahsyat gejolak mengejarnya. Semakin hebat larangan semakin kuat pula kerinduan terhadapnya. Ternyata kedua-duanya seringkali bekerjasama tuk menggelincirkan hati kita..

Sahabat seiman,
Seperti hari ini, kita bangun dan berangkat kerja tuk memburu keinginan.. maka berhati-hatilah!, Jika ikhlas telah memenuhi dada, syurga dan ridho-Nya telah jelas menjadi muara, disana rambu-rambu larangan telah terpasang, kita pasti melewatinya, kecenderungan untuk melanggarnya pasti ada, bahkan ia seakan menggoda dan memaksa menawarkan keinginan yang belum tercapai.., maka sehebat apa iman memimpin diri menghadapinya..?

Sahabat seiman,
Sahabat seiman..,
bagaimana mungkin kita akan melanggar larangannya sementara kita mengharapkan rahmat-Nya? Bagaimana mungkin kita akan mengetahui rambunya jika Al Quran dicampakkan?, bagaimana mungkin kita akan memahami keinginan suci bila hati tak berdzikir, otak tak berpikir..? larangan Allah adalah kasih sayang bukan pengekang, maka luruskan niat, maksimalkan usaha lalu bertawakkallah, selamat beraktifitas!!!

Embun Pagi Forsimpta
Oleh: Saiful Bahri, Lc

Muslimah Bekerja, Apa Salahnya?

Mendengar bincang-bincang teman suatu
waktu “susahnya cari khadimat* jaman sekarang ya? Mendingan cari
sarjana”. Dan memang demikian keadaannya dalam era modern ini , kesadaran masyarakat akan pendidikan semakin bertambah meski
biaya yang dibutuhkan juga tidak murah. Sehingga ketika sang wanita
telah menamatkan sarjana bahkan doktoralnya, mereka berlomba-lomba pula untuk
mencari pekerjaan, mereka berdalih bahwa sayang kuliah tinggi-tinggi
jika nantinya hanya berkutat mengurusi rumah tangga, alias “hanya
ibu rumah tangga”.

 

Begitu rendahnyakah jika seorang
sarjana atau doktor kemudian berhidmat dan totalitas mengurusi ‘tetek
bengek’ di rumah tangga suaminya, lantas apakah salah jika ada
sebagian muslimah itu bekerja menjemput rezeki yang sekiranya ia
tidak turun tangan langsung maka ia dan keluarganya tidak bisa
makan.

Atau bagaimana jika diantara mereka bekerja hanya untuk
menghibur diri daripada bosan dirumah. Segalanya bisa saja menimpa
pada setiap muslimah, jika saja kita tidak mengetahui ilmunya.
Sekelumit catatan yang saya kutip dari buku dalam suatu bab yang
menggelitik dan sering menjadi perdebatan yang takberujung tentang
muslimah bekerja.

 

Dan biarlah Al-Quran telah menceritakan
tentang Musa a.s dan Shafurah. Ketika itu Musa a.s  meninggalkan Mesir
guna menghindari ancaman pembunuhan. Sesampainya dikota Madyan,
sambil duduk beristirahat di dekat mata air dia melihat gerombolan
penggembala sedang memberi minum ternaknya. Diantara para penggembala
dilihatnya dua orang perempuan menahan dan menambat ternaknya di
bawah pohon rindang, hingga nabi Musa a.s mendekati dan bertanya :
“Apa maksudmu berbuat demikian terhadap ternakmu?”

 

Kami tidak dapat memberi minum
ternak sebelum pengembala itu pergi”

 

Kalau kamu tidak mau mendekat dan
bercampur dengan para pengembala (laki-laki) kenapa datang sendiri?”tanya Musa a.s lagi.

 

Ayah kami amat lanjut usia, tidak
mungkin sanggup menunaikan tugas ini”.
(Al-Qashash:23)

 

Melihat dari cerita diatas yang nota
bene sejarah yang nyata-nyata terjadi karena diabadikan dalam Al-Quran, mengandung hikmah bahwa pada dasarnya wanita itu boleh
keluar (bekerja) untuk mengambil air dan memberi minum ternaknya
karena terpaksa. Hal itu dikarenakan keuzuran usia ayah mereka yaitu
Nabi Syuaib a.s. Namun demikian yang perlu digaris bawahi meski mereka
bekerja di dunia luar yang di dalamnya terdapat laki-laki mereka
tidak mengharuskan dirinya bercampur baur dengan para gembala
laki-laki. Yang demikian berarti melakukan pekerjaan dengan tetap
memelihara karakter dan identitas kewanitaannya.

 

Dalam Islam, keadaan terpaksa beserta
keterpaksaan inilah yang menjadikannya boleh bekerja. Hukumnya
jaiz (boleh) karena Islam tidak mengharamkan bekerja. Apalagi jika dia
berada dalam posisi terpaksa harus bekerja, misalnya karena terdesak
kebutuhan ekonomi: suami sudah tidak mampu bekera lagi, bercerai
dengan suami atau suami meninggal sedangkan tidak ada orang atau
keluarga yang bisa menanggung kebutuhan ekonominya, sedangkan dia
sendiri dapat melakukan suatu usaha untuk mencukupi dirinya tanpa
meminta atau menunggu uluran tangan orang lain. Sehingga demikian,
dia bisa menjaga iffah (harga diri).

 

Dalam kisah lain diceritakan bahwa
ketika bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik
kurma, dia dihardik oleh seorang untuk tidak keluar rumah. Kemudian
ia melapor kepada Rasulullah yang dengan tegas mengatakan kepadanya,
Petiklah kurma itu, selama untuk kebaikan dan
kemaslahatan,”
(Shahih Muslim, juz II, halaman 1211, no hadits
1483).

 

Yang harus di pahami ukhti fillah,
keterpaksaan ini harus memiliki batas dan aturan yang jelas sehingga
tidak kemudian semua wanita lantas mengatakan setiap dirinya dalam
keadaan terpaksa. Batas-batas tersebut adalah jangan sampai terjadi
pergaulan bebas, harus tetap dalam aturan syari’at Islam baik
kepribadian, berjilbab sesuai syari’at, maupun tingkah laku
kesopanan.

 

Segala sesuatu di atur dalam Islam,
tidak kaku tapi juga tidak melentur sehingga segala hal bisa
dihalalkan. Bagi seorang perempuan, sebuah pekerjaan diluar tidak
boleh dijadikan profesi utama, hanya sebatas keperluan. Profesi utama
tetap harus dititikberatkan pada peran ke dalam(domestik) sebagai
istri atau ibu.

Dalam literatur fikih, perempuan yang bekerja (sudah
menikah) diharuskan memiliki restu suami ketika dia bekerja. Dia
harus terhindar dari fitnah, menjaga rambu-rambu yang telah
ditetapkan dalam Islam serta dapat tawazun(seimbang) antara peran
full time mother (Ibu Rumah Tangga) yang profesional diselingi peran
sebagai perempuan yang bekerja. Oleh karena itu sejatinya adalah ibu rumah tangga yang wanita karier bukan wanita karier yang ibu rumah
tangga. Sehingga setinggi apapun jabatan atau gaji tidak melupakan
kewajiban-kewajiban domestik sebagai istri ataupun ibu.

 

Dalam bermasyarakat adakalanya wanita
dituntut karena keadaan terpaksa. Dalam keterpaksaan, misalnya mereka
dituntut untuk menangani tugas-tugas tertentu dalam bermuamalah
dengan perempuan misalnya bidan atau dokter kandungan, guru,
perawat, penjahit, menuntut ilmu dsb. Dia bekerja pada fitrahnya
sebagai perempuan, dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda
“Sesungguhnya telah diizinkan Allah bagimu (wanita) keluar rumah
untuk sesuatu keperluan (yang dibenarkan oleh syara’),”(HR
Bukhori).

 

Di akhir pembahasan, intinya tak
salah jika muslimah itu bekerja karena adanya keadaan terpaksa dalam
keterpaksaan, seperti yang dikisahkan oleh Nabi Musa dan Shafurah.
Disana tersirat bahwa sebagai masyarakat yang luhur dan berbudi
pekerti, menolong perempuan supaya mereka tidak berlama-lama dalam
keterpaksaan adalah suatu kewajiban.

Masyarakat pun dituntut
menciptakan ingkungan yang kondusif bagi para wanita yang memilih
menjadi full time mother. Hingga taka da lagi cibiran ataupun
sindiran yang mengatakan “hanya” ibu rumah tangga . Karena
menjadi ibu rumah tangga adalah kebanggaan yang harus didukung tidak
hanya oleh pihak keluarga tetapi juga andil masyarakat.

Ketahuilah
jika seorang wanita memilih berkarier di dalam rumah tangga berarti
dia telah memberikan kesempatan kerja satu orang laki-laki yang
memang padanya ada beban tanggung jawab mencari nafkah. Berarti pula
sebenarnya seorang ibu rumah tangga telah membantu program pemerintah
mengurangi pengangguran.

Inilah salah satu peran yang tidak nampak
tetapi sering tidak diacuhkan. Peran besar, meski kadang tak harus
tampil diluar rumah, oleh karenanya IBU RUMAH TANGGA adalah salah satu
anasir penggerak pembaharuan moralitas bangsa.

 

Kesempurnaan hanyalah milik Allah,
semoga bermanfaat dan membawa pencerahan wallahua’lam bishawwab.

 

Penulis: Anindya Sugiyarto, Ibu Rumah Tangga,
tinggal di Rawasari, Jakarta Pusat.
disadur dari eramuslim.com

Agar Pekerjaan Lebih Bermakna

Assalamu’alaikum wr. wb.

 

Sahabat seiman…,

Disini kujumpai kau kembali Sahabat, kupastikan keberadaanmu hadir dalam selimut ukhuwwah, hangat buaiannya harus membuahkan hikmah, pastikan selimut ini akan terus terawat menyatukan kita., meski kita tak kenal sebelumnya, tak ada ikatan keluarga..  sungguh aku membutuhkanmu untuk menyempurnakan iman, membuktikan ketaqwaan dan meraih rahmat-Nya…

 

Sahabat seiman…,

sudikah kau bisikan sebuah pesan yang akan meningkatkan kekuatan, menambah penghasilan, dan melipatgandakan kepuasan? Bukankah itu dambaan setiap kita? Allah SWT berfirman, artinya: “..dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Ali Imran: 145)

 

Sahabat seiman,

mendapatkan hasil dari pekerjaan kita adalah biasa, karena itu adalah sunnatullah. tetapi yang menjadikannya mulia adalah mensyukuri apapun hasil pekerjaan kita.. saat itulah kita menemukan kepuasan kerja, dan saat itu pula lah kita akan tergerak untuk bersyukur karena kita telah bersyukur.. bersyukurlah, karena dipintu syukurlah Allah Swt akan menyempurnakan kerja kita dan memperhitungkannya sebagai amal sholeh..

 

Sahabat seiman,

Syukur bukan sekedar menerima hasil apa adanya, akantetapi  juga  semangat meningkatkan dan menyempurnakan kebaikan yang telah didapat.. mengapa harus mengeluh saat menerima kekurangan rezeki? Mengapa tidak kita mencari celah agar tetap dapat bersyukur, karena itulah cara terbaik untuk menambahnya..

 

Sahabat seiman,

Syukur bukan sekedar menerima hasil apa adanya, akantetapi  juga  semangat meningkatkan dan menyempurnakan kebaikan yang telah didapat.. mengapa harus mengeluh saat menerima kekurangan rezeki? Mengapa tidak kita mencari celah agar tetap dapat bersyukur, karena itulah cara terbaik untuk menambahnya..

 


 

Embun Pagi Forsimpta

Oleh: Saiful Bahri, Lc

Update persiapan Iedul Adha 1432 H

Assalamu’alaikum Wr Wb.


Sehubungan dengan datangnya IEDUL ADHA pada tanggal 10 Dzulhijjah 1432 H,  kami Panitia Iedul Adha DKM Masjid Ar Rahman  akan menyelenggarakan Shalat Iedul Adha dan pengelolaan hewan qurban bekerja sama dengan Pesantren Wirausaha Bina Insan Kamil (BIK ) –  Jakarta

Adapun harga dan ukuran hewan qurban yang kami sediakan adalah sebagai berikut

SAPI

KAMBING

Berat  310 – 350 Kg

Berat  31 – 35 Kg

Harga per ekor : Rp 10.500.000,-

Harga per ekor : Rp 1.500.000

untuk 7 (tujuh) orang @ RP 1.500.000

Termasuk biaya potong dan pengelolaan)

Untuk 1 (satu)  orang

(Termasuk Biaya Potong dan pengelolaan)

Biaya Potong/Pengelolaan  : Rp. 500.000  *

Biaya Potong /Pengelolaan: Rp 100.000 *

*biaya potong dikenakan apabila menyediakan hewan qurban sendiri atau dari luar.

Untuk informasi lebih lanjut  dan Layanan jemput Qurban silahkan hubungi kami : 081511693625  (Aang), 081808207411 ( Beja ) atau 081311323175 ( Fitra )

Semoga Allah Subhannahu Wa Ta’Ala memudahkan niat kita untuk berqurban tahun ini .

Wassalamu’alaikum Wr Wb

NB:

– Berikut ini kami lampirkan Sekilas info mengenai Pesantren BIK dan Form pendaftaran.

Form pendaftaran bisa di kembalikan ke :

aang_abu_bakar@hotmail.com  atau  mulyabeja@gmail.com

– Untuk melihat foto2 kunjungan ke peternakan BIK silahkan mengunjungi

    http://www.facebook.com/media/set/?set=oa.10150846667630632&type=1

 

download Form qurban disini:

Info BIK

form Pequrban